Pelukis Jalanan Simpang Surabaya, Menggores Pensil, Bertahan Hidup

Wawan Gandakusuma - 17 January 2019
Imam Kudori ditengah kesibukannya sebagai pelukis jalanan di kawasan Simpang, Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Dengan mengenakan baju berwarna putih dan topi hitam andalannya,  Imam Kudori (48) berjalan menuju lapaknya yang berada di depan Apotik Simpang, Surabaya, lalu menyapa Super Radio dengan hangat.

Pria tiga orang anak yang kerap disapa Imam ini mulai menceritakan perjalanan hidupnya sebagai seorang pelukis foto jalanan.

“Saya di sini sejak tahun 2000-an, awalnya karena sering main ke sini lihat teman-teman ngelukis dan kebetulan waktu itu mereka butuh orang, lalu saya coba. Setelah dilihat teman-teman, katanya lukisan saya bagus juga. Akhirnya saya dikasih tempat sendiri di sini,” kata Imam.

Berawal dari niatan mencari pekerjaan sementara, menguji mental, sekaligus mengumpulkan modal untuk menjadi pelukis profesional, Imam Kudori bertahan menjadi pelukis foto jalanan hingga saat ini.

“Niat awalnya dulu ya sebagai kerjaan sementara sekalian menguji mental saya, dan mengumpulkan modal, tapi karena rencananya sudah lewat ya mau gak mau mengikuti apa adanya ini, ya keinginan sesungguhnya bukan ini, tapi dianggap sebagai pengembangan saja, daripada didiamkan,” tuturnya.

Kini, hanya Imam saja yang tersisa dari pelukis jalanan yang ada di depan Apotik Simpang.

“Dulu ada 3 pelukis disini, termasuk saya. Tapi sejak 2016, hanya saya saja,” ujar pria yang sempat menjadi desainer grafis selama 3 tahun sebelum memutuskan menjadi pelukis jalanan ini.

Berada di kawasan tengah kota yang cukup strategis, sekaligus berada di depan Apotik Simpang yang menjadi bangunan cagar budaya, Imam Kudori mendapat julukan “Pelukis Depan Apotik Simpang”.

Lalu lalang kendaraan menjadi latar lapaknya yang memajang belasan lukisan foto mulai dari ukuran 10R (paling kecil) hingga ukuran 50×70 cm (paling besar).

“Dalam satu bulan, saya bisa membuat sekitar 10 karya, mulai ukuran 10R sampai 50 x 70 cm dengan harga mulai dari Rp 250.000 hingga satu juta,” kata Imam sambil menunjukkan ukuran lukisan fotonya.

Kemudian Imam mengeluarkan salah satu lukisan foto yang sedang dikerjakannya, goresan pensil diatas selembar kertas menggambarkan sesosok lelaki dengan mengenakan jas.

“Saya lebih banyak menggunakan media kertas dan pensil dalam membuat lukisan foto, tapi juga kadang ada yang minta pakai canvas dan cat acrylic. Banyak orang yang menganggap ini lukisan klasik yang sekarang jarang ditemui, karna kan sekarang banyak lukisan berwarna, hitam putih jarang,” jelasnya.

Sambil menyelesaikan lukisannya, Imam mengaku untuk melukis satu orang, ia membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari lamanya.

“Untuk melukis satu orang biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari, susahnya saat melukis foto ini ya saat mencari kemiripannya, karena kan tiap orang ada khasnya masing-masing,” papar Imam.

Di samping profesinya sebagai pelukis foto jalanan, Imam aktif dalam komunitas seniman Surabaya untuk memperluas jaringannya. Imam pun mengaku pernah mengikuti 3 kali pameran lukis gabungan di Surabaya.

“Alhamdulillah saya pernah ikut 3 kali pameran gabungan di Surabaya,” ungkapnya sambil sesekali merapikan goresan pensilnya.

Pelanggan lukisan foto karya Imam lebih banyak dari pekerja kantoran, yang biasanya memesan lukisan pada saat istirahat makan siang atau selepas jam kerja.

“Biasanya yang pesan itu pekerja kantoran waktu jam makan siang atau pas pulang kerja, jadi lapak saya buka tiaphari, dari jam 11.00 – 17.00 WIB,” pungkas Imam mengakhiri perbincangan. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.