Peduli Anak Berkebutuhan Khusus, Pemkot Surabaya Sediakan Ruangan Khusus di Siola

Petrus - 5 May 2018
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, menyalami ABK di ruangan khusus yang disediakan Pemkot di gedung Siola (foto : Humas Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya menyediakan ruang layanan keluarga Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), di gedung Siola lantai 2, sebagai wujud kepedulian peemrintah kota terhadap anak berkebutuhan khusus.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, keberadaan wadah ini memiliki maksud dan tujuan menyediakan fasilitas pelayanan anak berkebutuhan khusus, untuk membangun pemerataan layanan tanpa diskriminasi. Selain itu juga untuk memberikan ruang penanganan bagi ABK dengan kesulitan belajar umum maupun khusus, melalui pemberdayaan orang tua serta mengembangkan wadah edukasi bagi orang tua, guru, guru pandamping kelas untuk pengasuh dan pendidikan efektif.

“Bagaimana pun kondisinya, mereka tetap ciptaan Tuhan dan itu sama posisinya dimata Tuhan. Tidak ada lagi anak berkebutuhan khusus disembunyikan orang tuanya, kita semua sama,” kata Risma.

Risma mengingatkan kepada orang tua ABK, bahwa dibalik kekurangan anak-anak mereka, Tuhan menyelipkan talenta yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada umumnya.

“Seperti Albert Einsten yang dinilai gurunya tidak bisa dan mengerti dengan yang diajarkan. Tapi akhirnya, jasanya mempengaruhi dunia hingga saat ini,” ujar Risma.

Wali Kota Surabaya meyakinkan pada para orang tua ABK, bahwa di masa mendatang anak mereka akan dibutuhkan du dunia kerja. Hal ini karena kelebihan ABK yang dinilai lebih fokus saat menyelesaikan pekerjaan, seperti halnya pembuatan chip mobil mewah.

“Anak-anak autis bisa menyelesaikan pekerjaan semacam itu, karena susunan saraf otaknya teratur seperti rak buku, berbeda dengan anak normal,” lanjut Risma.

Kepada sektor kesehatan yang menangani ABK, Risma berpesan agar memberikan pelayanan yang terbaik dan mengetahui cara menangani pola perilaku ABK.

“Kalau kita memberikan yang terbaik dan mampu memecahkan masalah dengan trik yang benar, maka anak itu akan membawa perubahan bagi dirinya dan dunia, seperti halnya Einsten,” tandasnya.

Kedepan, Risma berencana membuat ruang khusus bagi psikologi dan terapi, untuk membahas permasalahan anak dan kemudian menganalisis permasalahan yang dialami ABK. Hal ini diharapkan mampu menemukan langkah tepat, ketika menangani persoalan yang dialami setiap ABK.

“Pemikiran orang banyak akan sangat baik ketimbang satu pikiran saja,” kata Risma.

Kepala Dinas Pengendalian Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Antiek Sugiharti mengungkapkan, ruangan itu tidak hanya diperuntukkan untuk ABK saja, melainkan melatih para orang tua agar dapat menangani putra-putrinya secara mandiri.

“Orang tua akan dilatih bagaimana cara memberikan terapi yang sesuai untuk perkembangan buah hatinya dengan dibantu psikolog dan terapis,” ujar Antiek.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.