Orang Gila di Ponorogo Masih Dapat Berikan Suara pada Pemilukada

Petrus - 27 February 2018
Ilustrasi. Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) usai apel Pelaksanaan Coklit Nasional di halaman Balai Kota Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Ponorogo – Orang yang mengalami gangguan kejiwaan atau biasa disebut gila, ternyata masih memiliki hak untuk memilih dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Mereka dapat menggunakan hak pilihnya, selama memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik.

“Orang gila harus mempunyai surat keterangan gila dari dokter, jika belum ada surat masih bisa nyoblos,” tutur Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Ponorogo, Muhammad Ikhwanudin Alfianto, Selasa (27/2/2018).

Petugas KPU memiliki kode-kode untuk disabilitas sesuai dengan kondisi masing-masing, yang penting untuk diingat terutama bagi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

“Ada yang tunadaksa, tunanetra, tunarungu/wicara, tunagrahita dan disabilitas lainnya, itu kita bedakan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing,” ujarnya.

Misalnya, seperti masyarakat penyandang tunagrahita, mereka harus memiliki kode khusus.

“Ini penting terutama saat pelayanan oleh petugas KPPS, sebenarnya mereka nyambung, tapi ibarat komputer loadingnya lama,” imbuhnya.

Ikhwanudin menjelaskan, penyandang tunagrahita sebenarnya masih bisa diajak komunikasi dan bisa nyoblos, karena punya hak pilih dan memiliki KTP elektronik.

“Mereka kan juga punya keluarga, punya anak, mereka juga berhak hidup normal seperti warga lainnya, meski loadingnya lama,” tukasnya.

Sementara itu, jika ada penyandang tunadaksa yang tidak memiliki tangan. Ia berhak menunjuk satu orang kuasanya, baik dari petugas atau keluarganya sendiri, untuk membantu mencobloskan sesuai pilihannya.

“Diperbolehkan dibantu dengan orang yang sudah diberi kuasa atas penderita tunadaksa,” paparnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.