Museum HAM Pertama di Asia

Yovie Wicaksono - 12 October 2018
Omah Munir di Jalan Bukit Berbunga No. 2, Sidomulyo, Batu, Jawa Timur. Foto : (Super Radio/ Fena Olyvira)

SR, Batu – Membahas mengenai museum, Indonesia patut berbangga karena memiliki museum yang tidak dimiliki negara lain. Salah satunya adalah museum Omah Munir, yang ada di kota Batu. Museum ini adalah satu-satunya museum HAM yang ada di Asia.

Museum ini berdiri Desember 2013, atau bertepatan dengan hari HAM, dan hari kelahiran Munir, pejuang HAM di Indonesia. Omah Munir sendiri merupakan rumah yang pernah ditinggali oleh Munir sekitar 2 tahun lamanya.

Pendirian Omah Munir sendiri bertujuan untuk merawat ide dan pemikiran Munir, serta untuk pendidikan HAM pada generasi muda.

“Omah Munir sendiri memang ingin merawat ide dari Munir (alm.). Mulai dari ketokohan, keteladanan, dan perjuangan beliau yang ingin kita rawat, dan melakukan pendidikan HAM pada generasi muda.” kata Kepala Program Museum Omah Munir, Andhika Yudha Pratama kepada Super Radio, Jumat (12/10/2018).

Panel – panel yang ada di museum menjelaskan tentang rincian kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Aceh Corner yang berisikan pelanggaran HAM di Aceh, sosok tokoh pejuang HAM, dan mural aktivis 98 yang hilang saat reformasi, serta barang pribadi peninggalan Munir.

“Koleksi yang ditampilkan ada sekitar 50 buah barang milik Munir, seperti bolpoin, KTP, Passport, SIM. Barang yang ditampilkan itu barang yang dibawa beliau ketika di Belanda, dan barang itu diserahkan setelah proses otopsi” jelas Andhika.

Selama 5 tahun berdiri, Omah Munir tampil sebagai museum yang aktif.  Yayasan Omah Munir yang mengelola museum ini,  banyak melakukan kegiatan seperti diskusi dan seminar serta lomba debat tentang HAM tingkat SMA se – Malang Raya.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Batu mendukung revitalisasi museum dengan menyediakan lahan di daerah kota Batu. Kedepan, Omah Munir akan memiliki  rumah diskusi dan menambah corner yang lain, seperti Timor-Timur Corner.

Untuk itu, Yayasan Omah Munir tahun ini mengadakan sayembara desain museum untuk proses revitalisasi  agar bangunan bisa lebih representatif dan semua koleksi yang masih berada di gudang dapat ditampilkan.

Revitalisasi ini diharapkan bisa mewujudkan slogan “Ada dan Berlipat Ganda” yang berarti  ide dari perjuangan Munir itu ada dan semakin berlipat ganda.

Sekedar informasi, Munir Said Thalib, lahir di Malang, 8 Desember 1965 dan meninggal 7 September 2004. Ia meninggal di dalam pesawat jurusan Amsterdam,  diduga karena ada kandungan arsenic (zat kimia berbahaya) dalam tubuhnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.