Muka Tanah Wilayah Malang Raya Turun Tiga Meter

Yovie Wicaksono - 13 October 2018
Ilustrasi Penurunan Muka Tanah

SR, Malang – Hasil analisis Grup Riset Geoinformatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB) Malang menyebutkan,  wilayah Malang Raya mengalami penurunan muka tanah hampir tiga meter dalam kurun waktu hampir tiga tahun.

Melansir Antara, Ketua Grup Riset Geoinformatika Filkom UB Malang Fatwa Ramdani di Malang, Sabtu (13/10/2018), mengatakan pihaknya telah melakukan analisis terhadap pergerakan vertikal dari wilayah Malang Raya dan sekitarnya berbasis data satelit radar (Sentinel-1) milik Uni Eropa.

“Berdasarkan hasil analisa tersebut, wilayah Malang Raya, Jawa Timur, mengalami penurunan muka tanah yang signifikan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini (2015-2018),” ujar Fatwa Ramdani.

Ia mengemukakan data yang dikumpulkan adalah data dalam periode tiga tahun terakhir. Pendekatan Differensial Interferogram Synthetic Aperture Radar (DinSAR) dilakukan untuk mendapatkan informasi perubahan secara vertikal dari permukaan muka tanah.

Hasilnya cukup mengejutkan,   wilayah Malang Raya Selatan dan sekitarnya mengalami penurunan muka tanah yang signifikan dalam kurun waktu 3 tahun, yakni hampir 3 meter.

Untuk wilayah tengah dan utara tidak mengalami perubahan yang signifikan. Namun, sebaliknya wilayah paling utara, seperti Surabaya dan Pulau Madura mengalami kenaikan muka tanah sekitar 30 cm.

Sementara itu, aktivitas lempeng Australia yang terus bergerak mendorong ke arah utara menuju selatan Pulau Jawa bergerak sekitar 71 mm per tahun. Ini terlihat kecil, namun dampaknya ternyata sangat besar pada penurunan muka tanah. Data tersebut bisa ditunjukkan kepada masyarakat di wilayah Malang Raya Selatan dan sekitarnya.

Sehingga, masyarakat di wilayah ini (Malang Selatan) perlu mempertimbangkan struktur bangunan yang tahan terhadap perubahan penurunan muka tanah yang signifikan agar ketika terjadi bencana, kerugian materil maupun non-materil bisa diminimalisasi.

Untuk wilayah tengah dan utara Malang Raya, lanjut Fatwa, juga perlu diperhatikan, terutama aspek lingkungan. Sebab, pertumbuhan yang tidak terkontrol bisa mendatangkan bencana, seperti banjir dan longsor pada musim penghujan, bahkan berdasarkan analisis sementara, selama 20 tahun terakhir Kota Malang dan Kota Batu mengalami pertumbuhan yang sangat cepat.

Oleh karenanya, bencana yang terjadi beberapa waktu lalu harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Tujuannya, agar tidak lagi banyak korban jiwa dan kerugian material yang besar dari masyarakat.

“Edukasi terhadap literasi bencana juga perlu dilakukan secara terintegrasi, dan semua pihak harus memberikan kontribusi positif,” tuturnya. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.