Meski Lahan Sempit, Hasilkan Produk Pertanian Pakai Sistem Hidroponik

Petrus - 30 January 2018
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ikhsan, menghadiri panen raya School Farming di SMP Negeri 3 Surabaya (foto : Humas Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Sempitnya lahan di kota metropolitan seperti Surabaya, menjadi tantangan untuk menyiasati keterbatasan lahan untuk bercocok tanam di Surabaya. Metode menanam dengan menggunakan media hidroponik, menjadi salah satu cara yang dikembangkan untuk memproduksi tanaman pangan.

Seperti yang diterapkan SMP Negeri 3 Surabaya di jalan Praban, Surabaya, yang menggunakan sistem hidroponik untuk diajarkan kepada para murid untuk menghasilkan tanaman hidroponik. Melalui sistem hidroponik ini, masyarakat mampu menghasilkan tanaman dengan masa panen yang lebih efektif, seperti sayuran sawi, bayam, dan selada.

“Sistem pertanian hidroponik terbukti lebih produktif, hanya membutuhkan waktu 45 hari tanam. Sedangkan penanaman secara konvensional baru bisa dipanen setelah 80 hari,” kata Ikhsan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, saat menghadiri panen raya School Farming di SMP Negeri 3 Surabaya.

Ikhsan mengatakan, konsep hidroponik ini bisa diterapkan di rumah masing-masing, karena selain tidak membutuhkan lahan luas, konsep hidroponik lebih sehat dan mampu menghemat biaya rumah tangga untuk kebutuhan memasak.

“Paling tidak, bisa ada penghematan dalam pengeluaran rumah tangga. Tidak perlu beli sayuran, cukup dengan tanaman sendiri,” kata Ikhsan.

Sekitar 5.000 jenis sayuran dipanen di SMP Negeri 3 Surabaya, antara lain sawi daging, sawi hijau, sawi jepang dan sayuran organik lainnya. Kelebihan sayuran dengan konsep hidroponik dibandingkan yang ditanam secara konvensional, yakni dapat dikonsumsi langsung.

“Ini lebih sehat dan lebih alami, karena tanpa pupuk, pestisida dan segala macam,” imbuhnya.

SMP Negeri 3 Surabaya memanfaatkan lahan di salah satu atap bangunan sekolah seluas sekitar 8×12 meter, untuk ditanami berbagai jenis sayuran. Selain dijadikan bahan sayuran, sayuran organik yang sudah dipetik juga dapat dijadikan bahan olahan makanan maupun minuman lain, seperti jus sawi, roti lapis, risoles, mie dan keripik.

“Semangat yang dilakukan siswa dan para guru di SMPN 3 Surabaya, mudah-mudahan bisa menular ke sekolah lain,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.