Mesin Cetak Braille Pertama Karya ITS Siap Dipasarkan

Petrus - 25 November 2017
Rektor ITS Joni Hermana mencoba mesin cetak Braille karya dosen ITS di SLB YPAB Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan uji coba mesin cetak huruf Braille, karya tim dosen Fakultas Teknologi Elektro (FTE) ITS, yang terdiri dari Tri Arief Sardjono (ketua tim), Tasripan, dan Hendra Kusuma. Uji coba dilakukan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB), Jalan Gebang Putih, Surabaya, belum lama ini.

Mesin cetak Braille (Braille Embossers) ini merupakan mesin pencetak huruf atau aksara yang digunakan para penyandang tunanetra untuk membaca. Hasil cetakan mesin ini berbeda dengan mesin cetak pada umumnya yang menggunakan tinta dan printer, karena huruf yang dicetak berbentuk timbul atau berupa tonjolan-tonjolan huruf Braille. Mesin cetak huruf Braille disebut mampu mencetak 1.200 halaman per jam.

Riset mesin cetak Braille ini telah dikerjakan tim ITS sejak 2012 lalu, saat masih menjadi Jurusan Teknik Elektro, dibawah Fakultas Teknologi Industri (FTI). Mesin cetak Braille ini merupakan pengembangan mesin cetak dari Norwegia, yang telah dimiliki oleh sejumlah SLB di Indonesia yang kondisinya sudah tidak layak.

“Tim dari ITS saat itu diminta oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk membantu memperbaikinya,” terang Tri Arief Sardjono, Ketua Tim yang juga Dekan FTE.

Pada 2014, ITS berhasil membuat prototype hasil pengembangan mesin cetak Braille dari Norwegia itu menjadi lebih baik dalam beberapa fiturnya. Menurut Tri Arief, alat ini merupakan mesin cetak Braille pertama karya anak bangsa.

“Tahun 2015, ITS berhasil mendistribusikan tiga prototype mesin ini ke SLB di Jayapura, Ambon, dan Pangkal Pinang,” ujarnya.

Saat ini ITS juga ditugasi oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dalam Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) dan Pendidikan Khusus, dan Layanan Khusus (PKLK) Dikdasmen Kemdikbud, untuk membuatkan masing-masing satu prototype, dengan bantuan dana Rp. 390 juta per mesin.

“Prototype mesin cetak Braille karya tim kami ini telah mencapai TKT 7 (Tingkat Kesiapterapan Teknologi 7), sehingga sudah siap untuk hilirisasi ke industri,” lanjutnya.

Arief memastikan bahwa mesin ini sudah berskala industry, dan siap untuk diproduksi secara massal. Melalui Corporate Social Responsibility (CSR), diharapkan Braille Embossers ini dapat diproduksi dan dipasarkan ke masyarakat.

Mesin cetak Braille karya ITS ini dirancang dengan komponen suku cadang 85 persen produk Indonesia. Sehingga harga diharapkan lebih terjangkau meski tidak untuk ukuran personal, mudah dioperasikan dan dirawat, serta kompatibel dengan sistem operasi komputer modern. Ke depan mesin tersebut akan dihibahkan ke SLB-SLB untuk mempermudah pembuatan soal-soal ujian, buku baca sekaligus mendukung gerakan literasi.

“Mesin ini membutuhkan investor, mesin ini tidak akan dimiliki secara personal karena harganya yang relatif mahal jika untuk ukuran personal,” imbuhnya.

Mesin Cetak Braille keluaran ke-4 ITS ini juga sudah ditunggu-tunggu oleh SLB di Indonesia, sedangkan mesin keluaran ke-5 akan rilis Desember mendatang.

“Ada lima SLB yang sangat membutuhkan mesin ini, dan ada 50 SLB senter yang harus melayani lebih dari 1.000 SLB sekitarnya,” tuturnya.

Rektor ITS Joni Hermana yang hadir meresmikan ujicoba, juga berkesempatan mencoba mesin cetak Braille tersebut. Hasil cetakan braille itu sempat dibacakan langsung oleh beberapa siswa didik SLB YPAB, untuk membuktikan keakuratan mesin tersebut.

“Mesin ini dihasilkan oleh anak bangsa dan dapat diperoleh dari dalam negeri, ini merupakan kontribusi yang luar biasa,” tutur Joni.

Joni Hermana berharap agar ITS mampu menjawab persoalan seperti ini, terlibih memberikan kontribusinya bagi masyarakat.

Kepala SLB YPAB, Eko Purwanto mengatakan, keberadaan Mesin Cetak Braille ini dirasa sangat mendukung gerakan literasi untuk para tuna netra. Menurutnya, SLB YPAB merupakan sekolah luar biasa dengan siswa terbanyak di Jawa Timur, dan satu-satunya SLB untuk tuna netra di Surabaya.

“Siswa SLB YPAB tahun ajaran ini berjumlah sekitar 90 siswa, harapannya Mesin Cetak Braille ini dapat dihibahkan juga di sini nantinya,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.