Merayakan Perbedaan dengan Perbuatan Kasih untuk Mendapatkan Surga

Petrus - 12 April 2018
Diskusi membahas tema Surga Milik Siapa, dihadiri pemuka agama dan kepercayaan di Jawa Timur, di Kampus UKWMS (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Indonesia merupakan negara dengan berbagai perbedaan atau keberagaman, mulai suku, golongan, bahasa, agama dan keyakinan, yang menjadikannya sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan yang ada sering kali menjadi sumber pertentangan, sehingga tidak jarang timbul konflik yang mengarah ke perpecahan.

Sentimen agama atau keyakinan akhir-akhir ini sering menjadi alasan orang untuk berselisih paham, hingga saling caci maki dan hujat. Surga menjadi salah satu alasan orang untuk membenci, karena berpendapat bahwa dirinya dengan keyakinan dan golongannya yang layak memperoleh surga.

Tidak hanya dalam dunia nyata, pertentangan pemahaman mengenai surga juga marak di sosial media. Dikatakan oleh Ketua Paruman Walaka Parisada Hindu Dharma (PHDI) Jawa Timur, I Nyoman Sutantra, pertentangan pemahaman mengenai surga lebih disebabkan pengertian yang berbeda mengenai surga pada setiap umat beragama. Padahal pemahaman mengenai surga, tidak dapat dijelaskan dengan mudah dan gamblang melalui keterbatasan pikiran manusia.

“Karena mempunyai pengertian yang berbeda tentang surga itu. Kalau kita mempunyai pengertian yang sama tentang surga, bahwa surga itu hanya satu, ciptaan Tuhan. Surga itu adalah alam rohani, supaya rohani kita kesana, dan kemudian jasmani kita masih tetap ada di alam ini karena kita terdiri dari alam ini, makanya jasmani kita kembali ke alam, rohani kita ke surga,” terang I Nyoman Sutantra, pada dialog lintas agama di Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, beberapa waktu lalu.

Surga sering kali diakui milik salah satu agama serta umat tertentu, sehingga umat agama atau kepercayaan yang lain tidak akan dapat masuk surga. Menurut Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia, Naen Soeryono, surga tidak dapat dikalim sebagai milik salah satu agama saha, karena surga adalah capaian bagi setiap orang yang mempunyai damai dan watak cinta kasih terhadap sesama manusia.

“Surga itu adalah milik semua orang, yang dalam kehidupan di dunia ini selalu memiliki sifat harmoni, yaitu orang-orang yang mempunyai watak cinta kasih, yang mempunyai damai dalam kehidupannya, kebahagiaan yang hakiki itulah wujud surga, sehingga surga adalah milik semua orang,” kata Naen Soeryono.

Surga juga merupakan tempat bagi siapa saja yang membela martabat manusia, serta siapa saja yang berbuat cinta kasih kepada sesamanya. Seperti diungkapkan Romo Agustinus Pratisto Trinarso, Pastor di Katolik di Keuskupan Surabaya. Menurutnya, surga tidak dapat disekat-sekat oleh setiap orang berdasarkan keyakinannya, karena surga merupakan tempat bagi siapa saja yang memberikan cinta kasih kepada manusia lain tanpa memandang perbedaan.

“Kalau dia mau memperjuangkan kehidupan manusia, dia pasti tidak akan tersekat antara surga untuk dirinya, dan surga untuk orang lain. Maka kalau nilai itu yang diperjuangkan, dia memperjuangkan harkat martabat manusia, dia memperoleh dua-duanya, surga untuk dirinya dan surga untuk orang lain. Yang mengajarkan cinta kasih dan membela martabat manusia, dia berhak dapat surga,” terang Romo Agustinus Pratisto Trinarso.

Pengasuh Ponpes Ahlus Shofa Wal Wafa, Sidoarjo, KH Mohammad Nizam As Shofa mengatakan, surga bukan milik salah satu kelompok sehingga tidak perlu diperebutkan. Pemahaman mengenai surga yang menimbulkan pertentangan hingga alasan berbuat kekerasan, disebabkan rendahnya pemahaman mengenai agama itu sendiri.

“Karena rendahnya pemahaman agamanya, yang harus ditinggikan agar tidak seperti itu. Siapa pun yang pemahaman agamanya baik dan benar, pasti berpantang berbuat kekerasan, dengan alasan apa pun. Maka siapa saja yang melakukan kekerasan, dengan alasan apa pun pula itu pelanggaran agama,” kata Nizam.

Mohammad Nizam mengajak masyarakat Indonesia dari berbagai agama dan keyakinan, untuk menjalankan ajaran agama serta keyakinan sesuai Kitab Sucinya masing-masing. Pengajaran mengenai Kitab Suci hendaknya melalui bimbingan pemuka agama atau ahli agama yang baik.

Nizam mengatakan, akhir-akhir ini banyak umat beragama mendalami ajaran agama secara instan, melalui bimbingan ulama yang bukan sesungguhnya.

“Tidak ada jalan lain kecuali harus memahami, harus kembali kepada Kitab Sucinya masing-masing, dan mendalami atau memahami dengan baik dan benar dibawah bimbingan ahlinya. Kalau Islam ya dibawah bimbingan ulama yang memang, ya ulama dalam arti sesungguhnya. Kalau yang Kristen ya dibawah bimbingan pendeta yang pendeta sesungguhnya, begitu seterusnya,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.