Merawat Tradisi Batik Tulis

Yovie Wicaksono - 28 December 2018

SR, Sidoarjo – Kampoeng Batik Jetis, merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang masih menjaga kelestarian dan keaslian batik tulis atau batik asli Sidoarjo.

Dinamakan kampung batik, karena mayoritas masyarakatnya adalah pembatik sejak tahun 1675 dan turun menurun hingga saat ini.

Pembatik generasi ke 3 di Kampoeng Batik Jetis, Ratna Tutik Mufidah (61) mengatakan, batik tulis Sidoarjo banyak diminati oleh masyarakat Madura, sehingga batik Sidoarjo juga sering dikenal dengan corak Maduraan.

“Batik tulis Jetis atau batik Sidoarjoan itu konsumennya kebanyakan dari Madura, karena itu warnanya angkreng seperti merah, coklat tua yang mendekati ke warna hitam, dan warna hitam yang hitam banget, tidak seperti batik Jogya atau Pekalongan yang warnanya muda-muda” jelas Tutik, kepada Super Radio, Jumat (28/12/2018).

Batik Sidoarjoan juga  identik dengan motif udang bandeng yang merupakan ikon dari kota Sidoarjo, motif burung jantan, motif beras utah, motif burung merak, motif kebun tebu, motif sekar jagad, dan motif lainnya.

Proses pembuatan batik tulis membutuhkan waktu satu hingga dua bulan.  Hasil dari batik tulis terkesan lebih luwes, tidak monoton, dan  lebih awet dibandingkan batik cap.

“Batik cap itu hasilnya sama semua, monoton, tidak ada yang menceng seperti batik tulis. Namun justru itulah nilai seninya batik tulis,” tutur Tutik. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.