MER-C Tandatangani Kontrak Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myanmar

Petrus - 7 September 2017
Penandatanganan kontrak pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar (foto : Istimewa)

SR, Yangon – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani kontrak pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap kedua, yang berlokasi di Rakhine State, Myanmar. Penandatangan dilakukan oleh Presidium MER-C, Faried Thalib dengan Kyaw Nay Oo, selaku Direktur Rakhita Ah Linn Construction. Co.Ltd, kontraktor lokal pemenang tender pembangunan RS Indonesia.

“Ini merupakan kontrak kedua dari pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar. Tahap pertama sudah selesai dan kita sekarang akan segera bangun tahap kedua,” ujar Faried Thalib, anggota Presidium MER-C, usai penandatanganan kontrak di Yangon, Kamis (7/9/2017) waktu setempat.

Mantan Manajer Proyek Pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) ini menjelaskan, tahap kedua pembangunan rumah sakit ini untuk pembangunan gedung tempat tinggal bagi para dokter dan perawat.

“Pembangunan rumah tinggal untuk dokter dan perawat ini kita dahulukan, dan setelah berjalan, bangunan utama akan segera kita bangun secara bersamaan,” kata Faried.

Dikatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C. Ia berharap dengan dibangunnya rumah sakit ini, akan memberikan manfaat kepada rakyat Myanmar yang dilanda konflik, dan yang lebih penting akan membantu meredakan konflik di daerah ini.

Menurut Faried, Indonesia dengan mayoritas Muslim dan minoritas Buddha hendaknya menjadi contoh bagi pemerintah dan rakyat Myanmar, bahwa keberagaman bukan alasan untuk bertikai, namun justru saling mengayomi satu dengan yang lain.

“Terlebih lokasi Rumah Sakit berada di antara daerah penduduk muslim dan Buddha, sehingga bisa menjadi fasilitas untuk semua penduduk di sana,” katanya.

Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina.

Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State.

Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI.

Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar, baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia.

MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.