Menyuarakan Keadilan Melalui Museum Omah Munir

Wawan Gandakusuma - 9 December 2018
Salah satu ruangan di Museum Omah Munir, di Kota Batu. Foto : (Fena Olivia)

SR, Batu – Menyuarakan sebuah keadilan dengan cara turun kejalan selalu ada masa waktunya. Namun, dengan adanya Omah Munir sebagai Museum HAM pertama di Asia, sebuah keadilan bisa lebih ajeg disuarakan.

“Kalau aktivis orasi turun ke jalan itu pasti ada masanya, tapi kalau Museum ibaratnya kita bisa setiap hari untuk menyuarakan ide-ide kemanusiaan,” ujar Kepala Program Museum Omah Munir, Andhika Yudha Pratama kepada Super Radio, beberapa waktu lalu.

Untuk edukasi kepada masyarakat mengenai HAM di Indonesia, Omah Munir menggelar berbagai acara di dalam museum maupun di luar museum.

“Selama 5 tahun berdiri, Omah Munir tampil sebagai museum yang aktif.  Yayasan Omah Munir yang mengelola museum ini, banyak melakukan kegiatan seperti diskusi, seminar, serta lomba debat tentang HAM tingkat SMA se–Malang Raya pada saat peringatan hari HAM,” tambah Andhika.

Tahun ini, Andhika mengatakan, Omah Munir menggelar pameran hasil karya desain museum kerjasama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia di Graha Pancasila Pemerintah Kota Batu, pada 4-12 Desember 2018. Sedangkan pada 10 Desember 2018 akan diadakan Konser Ananda Sukarlan, sekaligus pengumuman pemenang lomba Sayembara Desain Museum.

Sekedar informasi, Munir Said Thalib, Pendiri lembaga independen Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) lahir di Malang, 8 Desember 1965 dan meninggal  7 September 2004. Ia meninggal di dalam pesawat menuju Amsterdam-Belanda, dan diduga meninggal karena ada kandungan arsenic (zat kimia berbahaya) di dalam tubuhnya.

Sebagai aktivis HAM, Munir sering kali menangani kasus kemanusiaan dan pelanggaran HAM, bahkan tidak jarang kasus yang ditangani membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Misalnya kasus pelanggaran HAM Timor Timur 1999, Munir harus mengenakan rompi anti peluru saat persidangan. Keberaniannya dalam menentang ketidakadilan dengan berbagai resiko, membuat Munir berbeda dibandingkan aktivis HAM lainnya.

Hingga saat ini kasus Munir belum menemui titik terang. Namun pihak dari Yayasan Omah Munir tetap optimis mengenai penyelesaian kasus tersebut.

“Kita juga harus optimis dengan penyelesaian kasus dari Munir, dan rasa optimisme itu kita barengi dengan aksi. Ini sudah edisi ke 600-an kita melakukan aksi di depan istana negara dan aksi Kamisan sudah ada dimana-mana, untuk mengingatkan kaum muda akan perjuangan Munir.” tambah Andhika. (fos/*red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.