Menyiapkan Generasi Milenial Hadapi Revolusi Industri

Yovie Wicaksono - 30 August 2018

SR, Surabaya – Kemajuan zaman dan arus globalisasi tidak dapat terbendung masuk ke Indonesia, disertai perkembangan teknologi yang semakin canggih. Kini, dunia memasuki era revolusi industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya, atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation.

Era 4.0 (revolusi industri keempat) dicirikan oleh kompleksnya persoalan yang akan dihadapi penduduk dunia, seperti semakin kompleksnya semua jenis pekerjaan. Hal ini disebabkan kombinasi globalisasi dengan teknologi informasi, yang kecepatan perkembangannya di luar dugaan. Diperlukan kecakapan menangani persoalan yang kompleks, agar dapat berkiprah di era 4.0.

Laporan khusus salah satu majalah ekonomi terkemuka, menyajikan gambaran pentingnya kecakapan sosial (social skills) dalam bekerja. Pola perekrutan tenaga kerja di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sejak tahun 1980, pekerja dengan kecakapan sosial yang tinggi meski keterampilan matematikanya rendah, adalah yang paling dibutuhkan dalam dunia kerja. Sementara, keterampilan matematika yang tinggi, tetapi kecakapan sosial rendah tidak dibutuhkan.

Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya dan Ekologi Strategis, Yanuar Nugroho menjelaskan, pergeseran keahlian di masyarakat dab dunia kerja bukanlah masalah, melainkan tantangan bagi generasi muda saat ini untuk menjadi lebih kreatif dan mampu mengingkatkan kemampuan dirinya.

“Karena jika kita tidak mau beradaptasi, dengan mudahnya hal-hal yang bisa kita lakukan akan digantikan oleh robot. Hal ini merupakan salah satu dampak dari revolusi industri 4.0, ketika jutaan pekerjaan akan berkurang digantikan oleh mesin, robot, kecerdasan buatan dan perangkat komputasi,” kata Yanuar, dalam kuliah umum dengan tema Skill-Shift (Pergeseran Keahlian) di Era Ekonomi Digital, yang diselenggarakan Fakultas Bisnis bersama dengan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

Yanuar justru menyebut bahwa kecanggihan teknologi justru harus menjadi kekuatan untuk mencari peluang di masa depan.

“Mudahnya saja usaha seperti airbnb bisa mempunyai keuntungan yang berlimpah, padahal mereka tidak mendirikan hotel namun hanya menjadi perantara antara pemilik hotel dan pelanggan. Contoh yang lain juga di dunia perbankan, jumlah orang yang menggunakan online banking lebih banyak dari pada yang datang ke bank secara langsung,” ujar Yanuar.

Masyarakat kini juga harus menjadi lebih peka dalam melihat kebutuhan pekerjaan maupun keterampilan, apakah yang lebih dibutuhkan dan tinggalkan yang bisa dikerjakan oleh robot.

“Universitas pun harus mempertimbangkan kembali kurikulum yang akan digunakan agar relevan dengan era digital ini, atau mungkin membuka program studi baru yang membantu mahasiswa menghadapi tantangan digital,” tutur Yanuar.

“Kerangka kebijakan disini harus visioner dan antisipatif, kerangka institusi harus fleksibel, dan kerangka akuntabilitas yang terbuka, imbuhnya.

Tak dapat dipungkiri, era digital pada saat ini juga menimbulkan tegangan kebijakan, antara yang kovensional dengan daring.

“Perkara sekarang ini bukan teknologinya, anda suka atau tidak suka teknologi akan berjalan terus, akan selalu berkembang. Teknologi adalah teknologi. Jangan menyalahan teknologi kalau anda mengalami kesulitan. Memiliki perangkat berarti harus mengerti digital,” pungkasnya.

Dialog ini dihatapkan dapat membantu mahasiswa menyiapkan diri dalam menghadapi era industri baru yang lebih cepat dan maju.

“Mahasiswa sebagai generasi milenial dituntut untuk menyadari dan menyiapkan diri dalam menghadapi era revolusi industri 4,0,” tandas Lodovicus Lasdi, Dekan Fakultas Bisnis UKWMS.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.