Menteri Agama Sebut Manuskrip Nusantara Sarat Pelajaran Penting

Petrus - 20 September 2018

SR, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai, bahwa memaknai naskah-naskah kuno atau manuskrip dalam kehidupan, sangat memberi pelajaran penting di era digitalisasi sekarang ini.

“Dalam konteks sekarang, di era digitalisasi, dalam melihat manuskrip, naskah-naskah kuno memberi pelajaran penting bagi kehidupan,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, di Jakarta, Kamis (20/9/2018).

Lukman menjelaskan, yang diperlukan saat ini adalah pemaknaan terhadap peninggalan masa lalu. Hal itu sangat tergantung dari wawasan pengetahuan dalam menerjemahkan dan menafsirkan masa lalu.

“Untuk memaknai nilai-nilai luhur, setidaknya dua hal, pertama, mengkaitkan antara teks dan konteks, ini mutlak,” kata Lukman.

Lukman mengatakan, kualitas menafsirkan, memberi penjelasan terhadap teks tergantung wawasan pengetahuan seseorang. Bicara ilmu sejarah, filologi, sosiologi, antropologi, kesusastraan, untuk memahaminya tidak bisa dengan ilmu yang tunggal, namun saling berkaitan.

Kedua, terkait pemihakan seseorang, masing-masing individu mempunyai kebebasan dalam menafsirkannya.

“Kita punya kebebasan menafsirkannya, tergantung teks dan konteksnya,” lanjut Lukman.

Seperti kisah ‘Wayang Beber’, Lukman mengatakan, gambarnya hanya satu namun bisa diceritakan dan begitu menggugah penontonnya, di mana orang bisa sedih, tertawa terbahak-bahak, bahkan orang-orang bisa hanyut dalam cerita dari gambar yang mati. Mungkin ini awal mula masyarakat Indonesia mengenal animasi.

“Ini artinya, kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, dan mengkontekstualisasikan dengan situasai dan kondisi. Ini yang lebih penting,” kata Lukman.

Kisah lainnya ketika ia masih Sekolah Dasar (SD), Ibunya berbeda pandangan dengan Budhenya, terkait adab ketika makan di meja makan, tidak boleh ngobrol. Itu normanya, itu nilai luhur yang harus diterapkan.

Zaman sekarang, menurut Lukman, justru hal itu tidak bisa lagi diterapkan, karena di meja makan itu tempat yang sangat mahal, dari sisi waktu dan kesempatan untuk berdialog dengan keluarga karena tidak ada kesempatan lain.

“Untuk memaknai hal ini, bisa positif, bisa juga negatif, itu tergantung cara kita menafsirkannya,” katanya.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.