Menko Polhukam Tawarkan Kerja Sama Counter Terrorism ke Myanmar

Petrus - 6 December 2017
Menko Polhukam Wiranto saat melaksanakan kunjungan kerja ke Myanmar (foto : Istimewa)

SR, Myanmar – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto melaksanakan kunjungan kerja ke Myanmar, Selasa (5/12/2017). Sejumlah agenda dibahas dalam kunjungan tersebut, mulai hubungan antara Indonesia dengan Myanmar hingga penanganan terorisme.

Dalam kunjungannya, Menko Polhukam Wiranto bertemu dengan Ketua National Security Adviser, Ambassador U Thaung Tun, Menteri Dalam Negeri Myanmar, Letnan Jenderal Kyaw Swe, dan Menteri Pertahanan Myanmar, Letnan Jenderal Win.

“Bagi Indonesia, Myanmar adalah bagian dari keluarga karena sama-sama memiliki sejarah yang panjang melawan penjajahan asing,” kata Menko Polhukam Wiranto.

Ia mengatakan, sebagai sesama anggota ASEAN, Myanmar dan Indonesia terus bekerjasama dengan erat dalam menjaga sentralitas dan kesatuan ASEAN.

Diungkapkan, Indonesia mengikuti dengan seksama dan memahami kompleksitas situasi di Rakhine State. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan, dengan tetap menjunjung tinggi kedaulatan Myanmar.

“Sebagai seorang Purnawirawan Jenderal yang pernah menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia, kita memiliki pemahaman yang sama atas arti penting persatuan bangsa dan negara, serta harga mati kedaulatan dan integritas wilayah negara, dan peran militer di dalamnya,” terang Wiranto.

Ia mengatakan, kedatangannya ke Myanmar tersebut diutus langsung oleh Presiden Joko Widodo khusus untuk membahas satu hal, yakni perlunya peningkatan kerja sama counter terrorism mengingat ancaman terorisme dan radikalisme harus ditangani sejak dini.

“Ancaman terorisme dan radikalisme terjadi dimana-mana, di semua negara, termasuk Indonesia dan Myanmar,” ujar Wiranto.

Mantan Panglima ABRI ini mengatakan, ancaman terorisme sifatnya lintas batas sehingga diperlukan kerja sama regional dan internasional untuk menanganinya. Indonesia sendiri memiliki pengalaman yang dapat dibagi dalam pemberantasan radikalisme dan terorisme, yaitu melalui soft power dan hard power.

“Kemampuan deteksi atau pencegahan sangat penting artinya untuk melumpuhkan kemungkinan serangan teror,” lanjut Wiranto.

“Sekali lagi, saya hadir ke sini untuk berdiskusi bagaimana kita dapat bekerjasama untuk menangani terorisme,” sambungnya.

Sementara itu, pemerintah Myanmar menyambut baik usulan dan tawaran Indonesia mengenai kerjasama di bidang penanganan radikalisme dan counter terrorism.

Meskipun demikian, Myanmar akan lebih menekankan pentingnya kerjasama bilateral dalam penanganan radikalisme dan terorisme, khususnya dengan Indonesia yang dianggap sebagai the true friend of Myanmar.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.