Menko Polhukam Gelar Rakor Soal Terorisme di Indonesia dan Konflik Merawi Filipina

Yovie Wicaksono - 15 June 2017
Menko Polhukam Wiranto (foto : Superradio/Niena Suartika)

SR, Manado – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah daerah dengan pemangku kepentingan lainnya seperti TNI, Polri, BNPT dan masyarakat. Rakor ini membahas masalah terorisme di Indonesia dan konflik di Merawi, Filipina Selatan.

Menko Polhukam Wiranto mengatakan, perkembangan situasi global belakangan ini diwarnai dengan maraknya aksi terorisme. Tercatat dalam satu bulan terakhir, ISIS mengklaim telah melakukan aksi terornya di beberapa negara. Seperti serangan terror di Inggris yang terjadi pada konser Ariana Grande di Kota Manchester, aksi penikaman di depan Wensminster London, serta penyerangan terhadap para pejalan kaki di London Bridge dan Borough Market. Selain itu, serangan teror dalam beberapa hari terakhir juga terjadi di kota Melbourne Australia, hingga yang masih berlangsung saat ini yaitu aksi penyerangan kelompok Maute di Kota Merawi, Filipina.

“Aksi yang dipimpin oleh Isnilon Hapilon ini dianggap berbahaya bagi keamanan negara kita karena jarak kota Merawi dengan Kota Davao, wilayah yang dekat dengan perbatasan Filipina Indonesia di Pulau Mindanao, berjarak sekurang-kurangnya 300 km lewat perjalanan darat. Selain itu, wilayah perairan selatan Filipina juga berbatasan dengan wilayah perairan Sulawesi Utara,” kata Menko Polhukam, Wiranto, saat memberikan pengarahan dengan tema ‘Perkembangan Terorisme di Indonesia dan Dampak Konflik di Merawi, Filipina Terhadap Indonesia’ di Manado, Rabu (14/6/2017).

Wiranto menambahkan, hal yang perlu diwaspadai pemerintah dan masyarakat Indonesia adalah eratnya hubungan antara jaringan teroris di Indonesia dengan Filipina. Dikatakan, bahwa kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berbasis di Poso memiliki hubungan dengan kelompok radikal MILF (Moro Islamist Liberation Front) yang berbasis di Moro, Filipina Selatan. Dimana kelompok MIT mendapat suplai senjata api dari kelompok Anshorut Khilafah, Filipina.

Dikatakan, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah semakin berkembangnya aksi teroris di Indonesia, terkait peningkatan konflik Merawi di perbatasan Indonesia-Filipina. Pemerintah pusat, TNI, Polri, serta pemerintah daerah secara terpadiu telah dan akan melakukan upaya untuk mencegah semakin berkembangnya aksi teror tersebut.

“Kita wajib menyatukan kesepahaman bagaimana melakukan langkah-langkah antisipasi. Itulah pentingnya rapat koordinasi hari ini yang digelar di Manado, Sulut, yang kebetulan daerah yang sangat dekat dengan Filipina,” kata Wiranto.

Dikatakan, masyarakat sebagai garda terdepan juga perlu dilibatkan dalam pengamanan dan menghalang masuknya ISIS di Sulut.

“Penting melibatkan masyarakat karena mereka yang paling tahu kondisi di wilayah mereka. Kemudian memberikan penekanan agar aparat meningkatkan kewaspadaan yang setinggi-tingginya dan kita tidak boleh tidur,” kata Wiranto.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.