Menkes Sebut Kapasitas Nasional Masih Mampu Atasi Gempa Sulteng

Petrus - 5 October 2018
Pasien Korban Gempa Palu yang dirawat di luar ruangan (foto : Biro Pers Setpres)

SR, Palu – Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengatakan, kemampuan masyarakat Indonesia dari sisi kesehatan sudah sangat cukup untuk menangani bencana di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Kondisi ini membuat Indonesia masih belum membutuhkan bantuan dari negara-negara asing.

“Kapasitas Nasional masih mampu menangani, sehingga kita belum membutuhkan bantuan dari asing, baik orang maupun logistik kesehatan,” kata Menkes Nila Moeloek di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10/2018).

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, dr. Ahmad Yurianto. Ia menegaskan bahwa yang telah dikerahkan saat ini masih sebagian kecil, tidak sampai 20 persen dari kapasitas nasional. Bahkan Kemenkes masih mengatur kedatangan tenaga kesehatan dan tim logistik ke Palu dan Donggala. Menurut Yuri, ukuran ideal untuk menghadapi krisis adalah yang menjawab beban.

“Ukuran kita bukan seberapa banyak tenaga yang dikirim akan cukup, 1000 Nakes akan cukup atau 5 dokter sudah cukup, tidak seperti itu, tapi fokus pada bebannya,” katanya.

Yuri menambahkan, saat ini dokter spesialis bedah yang sedang bertugas kurang lebih 15 orang. Jika merujuk pada kasus bedah, di antara jumlah pasien yang harus dioperasi, baik yang darurat maupun yang dipersiapkan, serta dihadapkan pada jumlah dokter yang ada, dinilai sudah cukup. Artinya tidak ada lagi beban yang tertunda layanannya, dengan alasan tenaga kesehatan yang kurang.

“Kita masih punya kekuatan besar, kalau tidak bisa ditangani di sini, kita masih punya rumah sakit tipe A di Makassar, kirim ke RS Wahidin, ahlinya juga masih banyak disana. Kalau kurang ya kita kirim lagi, masih sangat sangat cukup,” kata Yuri.

Selain tenaga kesehatan yang dianggap cukup, stok obat saat ini pun dalam kondisi aman. Hal ini karena sistem obat yang dipakai menggunakan buffer/safety stock yang dimiliki oleh instalasi farmasi. Selain itu, bantuan dari relawan serta pencatatan dan pengeluaran selalu terpelihara. Ditambah lagi link dengan sistem logistik obat nasional, saat ini dapat dikatakan dalam kondisi aman, karena bisa langsung mengetahui mana yang kurang.

“Pedoman kita, obat harus aman untuk seminggu ke depan, nanti kalau sudah kurang tiga hari, baru kita dorong lagi,” kata Yuri.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.