Menjelang Pemilihan Legeslatif, Sendang Tirto Kamandanu Kediri Dikunjungi Sejumlah Caleg

Petrus - 18 October 2018
SR, Kediri – Sendang Tirto Kamandanu di Kediri ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, meski bulab Suro telah berlalu. Masih banyaknya masyarakat yang mengunjungi lokasi wisata situs peninggalan sejarah kerajaan Kadiri pada masa pemerintahan Sri Aji Joyoboyo, diperkirakan terkait dengan gelaran Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang.
Mereka yang datang ke Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri ini, bukan hanya berasal dari Kediri, melainkan juga dari luar daerah bahkan wisatawan asing terlihat di tempat ini. Selain bulan Suro, banyak orang datang ke tempat ini pada Jumat Legi dan Jumat Kliwon.
Sebelum memasuki ke dalam area Sendang Tirto Kamandanu, di luar lokasi wisata terdapat sebuah prasasti yang tertulis dalam bahasa Indonesia, mengenai sejarah singkat Sendang Tirto Kamandanu. Di situ dijelaskan, bahwa Sendang Tirto Kamandanu merupakan situs peninggalam kerajaan di masa Pemerintahan Sri Aji Joyobaya, pada abad ke 12 silam. Tempat itu kemudian dipugar atas prakarsa Yayasan Hondodento Yogyakarta, serta didukung masyarakat setempat.
Tempat ini merupakan patirtan atau mata air yang dianggap suci, yang digunakan pada masa pemerintahan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo, dan masih lestari hingga sekarang.
Selain sebagai tempat pemandian, air dari sendang Tirto Kamandanu ini banyak digunakan untuk berbagai keperluan pengunjung atau peziarah, sesuai keyakinan masing-masing.
Hal ini seiring keyakinan masyarakat, bahwa Sendang Tirto Kamandanu ini digunakan untuk melukad (mandi dan bersuci) oleh Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo, sebelum melakukan Parama Mokhsa, yakni menghadap Tuhan Yang Maha Esa beserta raganya.
“Kadang dari luar negeri pun pernah ke sini, Jakarta dan Bali juga, termasuk masyarakat Kediri. Tapi lebih banyak lagi pada saat momentum bulan Suro,” ujar Mbah Suratin (74) juru kunci Sendang Tirto Kamandanu, Rabu (17/10/2018) siang.
Banyaknya pengunjung yang datang pada bulan Suro, karena mereka menganggap bulan itu merupakan saat yang dirasa paling pas untuk memperoleh (mengalap) berkah. Tidak hanya dari kalangan masyarakat biasa, para pejabat juga banyak yang datang berkunjung.
Pada saat masa mendekati Pemilihan Legeslatif (Pileg) seperti sekarang ini, maupun Pemilihan Kepala Daerah beberapa waktu lalu, tempat ini juga banyak dikunjungi sebagai tempat memanjatkan doa agar harapan dan doanya terkabul.
“Kalau Caleg, itu dari berbagai penjuru waktu pilihan biasanya ke sini. Pokoknya banyak sekali, namanya tidak saya utarakan. Beberapa hari ini, sudah tujuh orang datang ke sini,” kata Mbah Suratin.
Awalnya, para Calon Anggota Legeslatif (Caleg) ini tidak secara terang-terangan atau langsung menemui dirinya, melainkan mengutus pengantaranya.
“Ritualnya seperti biasa, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidak menyepi, setelah selesai langsung pulang. Mereka juga sempat mandi menggunakan air sendang. Kalau nama saya rahasiakan,” lanjutnya.
Mbah Suratin mengatakan, siapapun diperbolehkan datang ke Sendang Tirto Kamandanu, tanpa memandang status maupun latar belakang agama atau kepercayaannya.
“Di sini, yang penting tidak memandang siapa pun. Tidak membedakan agama atau kepercayaan,” imbuhnya.
“Disini boleh dan bebas, dalam arti untuk berdoa serta melestarikan budaya leluhur. Ini hanya sebagai perantara saja, intinya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Maha Segala,” tuturnya.
Tidak hanya berupa Sendang, di lokasi ini juga terdapat Petilasan Eyang Srigati-Srigading. Mereka adalah pasangan suami isteri, yang pada zaman dahulu merupakan abdi kinasih dari Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo.
“Orang yang dekat. Soalnya, pada masa kecil Sang Prabu Joyoboyo, diasuh oleh mereka. Perumpamaannya seperti Pendowo dan Semar,” urainya.
Di lokasi Petilasan Srigasti ini pada masa Kerajaan Kadiri, diyakini sebagai sebuah keputren atau taman bagi putri raja.
“Otomatis kalau zaman kerajaan, kan taman para puteri,” uajrnya.
Sementara itu, Kasduri, selaku pengunjung asal Kabupaten Kediri mengatakan, dirinya sering datang untuk mengambil air sendang, karena airnya dipercaya mengandung unsur mineral yang sangat tinggi.
“Kalau di tempat pemandian, airnya telihat jernih meski sekarang masih musim kemarau,” tutur Kasduri.
Selain dianggap sakralkan, lokasi ini juga sering dijadikan jujugan bagi para pelajar dari berbagai lembaga pendidikan, untuk program edukasi pengenalan situs sejarah peninggalan kerajaan.(rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.