Menjelajah Nauru, Negara Terkecil di Dunia

Yovie Wicaksono - 1 February 2018
Suasana Perayaan HUT ke 50 negara Nauru (foto : Istimewa)

SR,  Nauru – Mungkin ketika mendengar negara Nauru, banyak orang yang bertanya-tanya, itu negara apa, ada dimana, kok baru dengar?. Sekilas memang Nauru seperti negara baru yang masih asing untuk sebagian orang, khususnya masyarakat Indonesia.

Namun, Republik Nauru, begitu negara ini disebut, merupakan negara yang sudah merdeka selama 50 tahun. Tepat pada tanggal 31 Januari, negara yang berada di kawasan Pasifik Selatan ini merayakan hari kemerdekaannya yang ke 50.

Memang tidak seperti di Indonesia, dimana ketika perayaan HUT Kemerdekaan pada 17 Agustus banyak acara yang dilakukan, salah satu hal yang wajib adalah menyelenggarakan perlombaan. Di Nauru, untuk memperingati hari kemerdekaannya cukup dengan menyelenggarakan acara kebudayaan sebelum dan sesudah kemerdekaan, serta upacara disertai pawai sesudahnya.

Untuk pawai sendiri, mereka menampilkan apapun yang mereka punya. Mulai dari Miss Nauru hingga profesi mereka yang rata-rata seorang nelayan. Penduduk Nauru pun hanya sekitar 11 ribu orang.

Presiden Nauru, Baron Divavesi Waqa berharap, dengan perayaan ini maka rakyat di Nauru akan semakin sejahtera. Selain itu, ia juga berharap agar kehidupan di Nauru bisa lebih baik lagi.

“Semoga rakyat Nauru semakin sejahtera dan kehidupan di Nauru bisa lebih baik lagi,” kata Baron Divavesi Waqa, Kamis (1/2/2018).

Wisata ke Nauru

Untuk melakukan wisata ke Nauru, wisatawan Indonesia dapat mengajukan visa ke Fiji.  Karena di Indonesia belum ada kantor Kedutaan untuk negara Republik Nauru.

Selain itu, wisatawan juga wajib memantau jam terbang ke negara tersebut. Karena mereka hanya memiliki jadwal penerbangan satu kali dalam seminggu.

Tidak banyak objek wisata yang dapat dilihat di negara tersebut, karena di sepanjang jalan hanya terbentang lautan yang sangat luas. Tapi bagi para wisatawan yang hobi mencari gambar atau memotret tentang awan, Nauru merupakan tempat terbaik, karena ketika pagi dan petang, warna awan di negara tersebut beragam, mulai dari jingga sampai biru keabu-abuan.

Untuk cinderamata, tidak banyak yang mereka punya, termasuk dalam hal pakaian tradisional yang terbuat dari bahan yang berasal dari pohon kelapa. Sementara untuk makanan, mereka suka makan nasi dan juga mie instant.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.