Menjaga Keberagaman Indonesia, Tanggungjawab Bersama Tokoh Agama dan Masyarakat

Petrus - 31 December 2017
Diskusi Merawat Keragaman Indonesia bersama Wimar Witoelar, di Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Pemerintah bersama masyarakat harus bersinergi untuk mengatasi maraknya aksi intoleransi dan radikalisme yang dapat mengarah pada disintegrasi bangsa. Aksi sekelompok orang yang mengintimidasi kelompok lain yang dianggap berbeda, menjadi ancaman kesatuan dna persatuan bangsa yang membutuhkan langkah bersama untuk mengatasinya.

Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bangkalan, Madura, Ahrori mengatakan, fenomena sosial yang sarat muatan politik dan kekuasaan harus diatasi dengan melibatkan para pemuka masyarakat dan tokoh agama, yang menegaskan pentingnya persatuan di tengah keberagaman untuk membangun bangsa.

“Para tokoh harus bersinergi, segenap elemen masyarakat harus memahami, terutama para tokoh-tokoh agama harus memberi pemahaman bahwa Pilkada ini bukan ajang memilih semacam organisasi biasa, tetapi bagaimana membangun masyarakat,” kata Ahrori.

Isu agama atau SARA telah dipakai untuk meraih kepentingan dan keuntungan sekelompok orang, pada Pilkada atau Pilpres beberapa periode terakhir. Para tokoh agama dan masyarakat bersama pemerintah diminta menguatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya membangun bangsa tanpa melihat perbedaan, sehingga tidak perlu membawa isu agama dalam hal politik.

“Membangun masyarakat bukan hanya segi peribadatan saja, tetapi bagaimana ekonomi, sosial harus dibangun secara lengkap. Artinya tidak serta merta kalau yang Muslim, bukan hanya pemilihan takmir masjid ini, yang beragama bukan Muslim mungkin bukan pemilihan Ketua Gereja, ini bukan. Tetapi ini membangun bangsa bagaimana berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Kristin, Warga Nusa Tenggara Timur mengatakan, keberagaman Indonesia harus terus dibangun dan dipelihara mulai dari lingkup yang terkecil, yakni keluarga. Memberikan pemahaman mengenai keberagaman Indonesia mulai dari keluarga diharapkan dapat melahirkan generasi penerus yang memahami dan menghargai perbedaan sebagai kekuatan untuk maju bersama.

“Keberagaman itu harus ditanamkan dari keluarga, dari anak-anak. jadi, kita harus mengajarkan konsep Indonesia yang beragam itu dimulai dari anak-anak kita, dari keluarga kita. Sehingga ketika itu tidak dibangun di setiap keluarga-keluarga di Indonesia, sangat mungkin akan terjadi yang namanya intoleransi itu akan muncul,” ujar Kristin.

Wimar Witoelar, aktivis keberagaman mengungkapkan, kebhinnekaan yang dimiliki Indonesia harus menjadi sumber kekuatan dan potensi luar biasa untuk membangun, sehingga setiap warga negara berkewajiban ikut menjaga dan memelihara keberagaman agar tidak lenyap.

“Pertama keyakinan bahwa ini memang adalah milik kita yang sangat penting dan juga bisa hilang, tidak otomatis. Jadi kesadaran yang pertama, kemudian dikomunikasikan dan mencari teman yang sependapat. Saya tidak menganut pengertian harus ada aksi yang agresif atau yang konkrit melawan orang-orang yang merusak keragaman, tapi lebih pada memperkuat kemampuan kita. Sebab kalau semua itu yakin pada dirinya sendiri dan ingin bersuara, itu dengan sendirinya akan hilang gangguan itu, karena gangguan itu sementara kok, mereka kan punya motif politik, kalau tidak berhasil ya akan berhenti,” papar Wimar Witoelar.

Semua warga negara, kata Wimar, harus menyadari bahwa dirinya bagian penting dalam membangun bangsa. Sehingga kelompok mayoritas yang selama ini diam dapatikut bersuara dan menegaskan pentingnya kesamaan hak dalam kebhinnekaan Indonesia.

“Perlu tapi jangan dipaksa, tapi lebih dirangkul, karena yang diam itu sebenarnya tidak tahu saja bahwa dia itu sangat penting,” tandas Wimar.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.