Menghindarkan Anak dari Bahaya dan Ancaman Paham Radikal di Lembaga Pendidikan

Yovie Wicaksono - 28 August 2018
Isustrasi, anank-anak Paud dan TK di Kota Problinggo mengikuti karnaval mengenakan kostum jihad (foto : istimewa)

SR, Surabaya – Dunia pendidikan di Indonesia menjadi sorotan, setelah gelaran karnaval anak TK berkostum menyerupai pejuangan Jihad beredar luas di media sosial. Para aktivis kebhinnekaan dan praktisi di bidang pendidikan menyoroti kejadian itu sebagai peringatan serius lembaga pendidikan dalam membina dan mendidik generasi muda penerus bangsa.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Luluk Prijambodo mengatakan, pendidik tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu pengerahuan, tapi juga pembentukan karakter pada anak. Pembentukan karakter pada anak dapat dilakukan dengan berbagai aktivitas, seperti pengenalan budaya, sejarah dan perjuangan para pahlawan.

Selain itu, para guru atau pendidik dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai yang diajarkan kepada anak didik, yang memperhatikan pula kesesuaian dengan usia anak.

“Ternyata ketika kita mengajak anak-anak kita yang mungil-mungil itu, karena itu kan PAUD, PG/TK, tentu dari sisi orang tua, dari sisi guru, dari sisi pendidik, harus menggunakan kepekaannya, kalau anak-anak itu saya pakaikan (pakaian) seperti ini, kira-kira nilai-nilainya tepat tidak ya,” kata Luluk Prijambodo.

Pemakaian kostum jihad pada karnaval kemerdekaan di Kota Probolinggo oleh sebuah lembaga pendidikan usia dini, dinilai kurang tepat oleh Tutut Guntari, pengajar SMP Negeri 3 Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Tutut Guntari menyayangkan sikap panitia karnaval Panitia yang tidak melakukan seleksi kostum yang akan dipakai terlebih dahulu oleh peserta karnaval dalam rangka Hari Kemerdekaan.

“Panitia seharusnya melakukan seleksi, kostum seperti itu tidak seharusnya dikenakan anak-anak,” kata Tutut.

Tutut menambahkan, penyebaran benih radikalisme pada anak usia dini sangat mungkin dilakukan terhadap anak usia pra sekolah. Kejadian yang ada selama ini adalah fakta munculnya benih kebencian pada anak usia sekolah, khususnya terhadap teman yang berbeda.

Kontrol orang tua di rumah juga sangat diperlukan, untuk mengantisipasi penyebaran benih intoleransi dan radikalisme terhadap anak usia sekolah.

“Benih radikalisme bisa saja disebarkan melalui anak-anak TK. Mengantisipasinya harus ada idealisme tandingan, yaitu liberal yang diterapkan di rumah, sehingga ada kontrol dari orang tua. Sepulang sekolah anak-anak bisa ditanya, tadi dapat pelajaran apa, seandainya anak-anak ini menjelaskan tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan Pancasila, bisa diluruskan oleh orang tua,” ujar Tutut.

Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) menyayangkan polemik pemakaian kostum jihad pada kegiatan karnaval di Probolinggo, meski menilai adalah terlalu dini bila mengaitkan hal itu dengan maraknya penangkapan terduga teroris di Probolinggo bebarapa waktu terakhir.

Koordinator JIAD, Aan Anshori mengatakan, pemakaian kostum kepada anak-anak yang menyerupai kelompok teroris, secara tidak langsung telah menanamkan benih kekerasan yang dapat diidentikkan agama tertentu.

Pemakaian kostum yang menjadi simbol kelompok teroris, menunjukan ketidakpekaan pada peristiwa teror bom di Surabaya Mei lalu.

Kegiatan karnaval di Probolinggo kata Aan, harus menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat, untuk menghadirkan pendidian yang bebas dari paparan intoleransi dan radikalisme.

“Jika radikalisme agama itu dimaknai sebagai upaya mempertontonkan simbol-simbol kekerasan, maka yang terjadi di Probolingo, saya kira merupakan lampu kuning atau lampu merah terkait dengan radikalisme di tingkatan pendidikan dasar. Kalau ini memang yang terjadi, maka saya kira semua orang patut waspada, dan merefleksikan kembali sejauh mana radikalisme ini kok bisa masuk sampai ke level itu,” papar Aan.

Aan Anshori menambahkan, pemerintah harua serius menyikapi maraknya intoleransi dan radikalisme di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pelaku intoleransi dan radikal sudah merambah di tingkatan pelajar SMA dan SMP.

“Pemerintah harus benar-benar melakukan evaluasi yang serius menyangkut bagaimana agama Islam itu diajarkan di level playgroup, TK, SD, SMP, dan SMA. Sebab survei dari PPIM UIN (Syarif Hidayatullah) Jakarta, menunjukkan situasi intoleransi dan bahayanya radikalisme sudah sampai ke level SMA dan SMP,” urai Aan.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.