Mengenalkan Bambu Sebagai Bahan Pembuat Kapal

Petrus - 1 April 2018
Heri Supomo bersama prototype kapal bambu rancangannya (foto : Humas ITS)

SR, Surabaya – Bambu tidak hanya dikenal sebagai tanaman yang mampu menghasilkan sumber mata air dan penguat strutur tanah, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan dan produksi peralatan rumah tangga yang bernilai tinggi.

Melalui tangan Dosen Departemen Teknik Perkapalan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Ir Heri Supomo, M.Sc, bambu dapat dijadikan bahan utama pembuatan kapal. Heri Supomo berhasil membuat purwarupa kapal memanfaatkan bambu sebagai bahan dasarnya.

Kapal berbahan dasar bambu ini menjadi alternatif kapal pada umumnya, dimana kayu merupakan bahan dasar utamanya, yang semakin sulit didapatkan. Kapal berbahan bambu ini diakui memiliki kekuatan yang lebih baik dari kayu, serta jaminan keamanan yang tinggi, dan harga yang 50 persen lebih murah dibandingkan harga kapal berbahan dasar kayu.

Inovasi kapal berbahan bambu ini dipakai Heri Supomo, karena populasi mambu yang melimpah dan waktu panen yang relative lebih singkat dibandingkan dengan kayu.

“Bambu dapat dipanen dalam waktu tiga tahun, sedangkan kayu baru dapat dipanen saat 25 hingga 30 tahun tanam,” kata Heri, yang memuali penelitiannya sejak 2008.

Heri mengatakan, setelah menemukan dasar-dasar yang menguatkan penelitiannya, bersama timnya ia melakukan penelitian dasar yang melibatkan sejumlah dosen dan mahasiswa di jurusannya. Ini dilakukan untuk memastikan kekuatan, mekanikal propertis, sifat-sifat fisis, dan konsep-konsep dasar pemilihan material bambu.

Hasilnya diperoleh jenis bambu kualitas terbaik, yakni bambu petung yang dilaminasi sehingga nilai kuat tarik dan tekan lebih baik daripada kayu jati.

“Yaitu sebesar 130 N/mm2 dan 50.73 N/mm2 serta renggangan mencapai 8,93 persen,” ujarnya.

Selain itu, perhitungan yang dilakukan menunjukkan kekuatan konstruksi dari bambu laminasi diperoleh pengurangan tebal kulit sebesar 27 persen pada kapal ikan 30 GT, jika dibandingkan dengan kapal berbahan kayu jati. Ini membuktikan bambu laminasi punya ketahanan dan nilai elastisitas yang baik, terlebih ketika diberi beban tarik maupun tekan.

“Proses pembuatannya juga lebih mudah dan fleksibel, karena tidak ada ukuran baku. Tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan pembuatan kapal,” lanjutnya.

Penelitian selanjutnya berupa penelitian terapan, setelah konsep-konsep dasar diselesaikan. Kapal bambu pada penelitian ini dibuat dengan kapasitas 60 GT, yaitu panjang kapal kurang dari 24 meter. Kapal tersebut kemudian diterapkan dengan suatu permodelan struktur, yang menguji kekuatan bahan bambu untuk kapal dengan beban di laut.

Hasilnya memuaskan setelah dilakukan pra penelitian hingga penelitian terapan. Bambu ini kuat, aman, dan layak untuk dijadikan pengganti kayu,” tegasnya.

Bambu laminasi ini selanjutnya disosialisasikan pada Industri Kecil Menengah (IKM) galangan kapal rakyat, yang ditanggapi positif oleh masyarakat yang cenderung meminta ia merealisasikan keberadaan kapal bambu.

“Kapal ini telah didukung oleh hasil pengujian laboratorium dan adanya prototype alat serta model bloknya,” imbuhnya.

Heri dan timnya juga terus berinovasi untuk memanfaatkan bambu sebagai perabot kapal, sehingga penelitian ini menarik perhatian sejumlah universitas di Inggris dan Jerman yang sepakat melakukan kolaborasi penelitian.

“Sebelum mengkomersilkan, saya ingin mendirikan pabrik bilah kayu terlebih dahulu. Kalau sudah melewati bagian tersulit ini, jadi mudah untuk diproduksi,” kata dia.

Pemerintah diharapkan menangkap peluang ini, dengan mendukung fasilitasi dan edukasi terkait pemanfaatan bambu untuk industry kapal.

“Terutama untuk mendukung rantai pasokan material bambu. Selain itu, saya berharap bambu semakin dibudidayakan, karena tidak hanya berfungsi sebagai bahan konstruksi tetapi juga penahan longsor,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.