Mengenal Satu-Satunya Stupa di Jawa Timur

Yovie Wicaksono - 4 July 2018
Stupa Sumberawan di Singosari, Kabupaten Malang. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Malang – Stupa Sumberawan di Desa Sumberawan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang merupakan satu-satunya stupa di Jawa Timur.  Berada di ketinggian 650 meter di atas permukaan laut di sekitar hutan pinus sisi selatan Gunung Arjuna.

Saat memasuki area stupa, pengunjung akan disambut dua Arca Dwarapala (Buto). Dwara berarti jalan dan Pala berarti penjaga, Arca Dwarapala bisa diartikan juga sebagai patung penjaga atau pintu gerbang masuk menuju kerajaan.

Sejarah tentang Stupa Sumberawan, bisa didapatkan dari buku karangan Suwandono yang sengaja disediakan di pos penjagaan.

Arca Dwarapala di Stupa Sumberawan. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Dari keterangan yang tertulis di buku tersebut, nama Sumberawan diambil dari nama desa setempat. Ada juga yang menyebutkan nama Sumberawan berasal dari kata Sumber dan Rawan (telaga). Alasannya, karena di dekat stupa tersebut banyak dijumpai sumber yang terkumpul menuju sumber yang paling besar dan membentuk Rawan (telaga). Penduduk setempat pun menyebutnya Candi Rawan (Candi Telaga).

Stupa ini memiliki panjang dan lebar 6.25 meter serta tinggi 5.23 meter. Penemunya adalah penduduk pribumi setempat yang kemudian melaporkan kepada pemerintah Hindia Belanda (Belanda) pada tahun 1904. Seorang ahli purbakala dari Belanda yaitu Ir. Van Romondi, yang mengadakan penggalian, perencanaan, dan pembangunan yang selesai di tahun 1937.

Sesuai dengan penelitian dan penggalian di tahun 1935 – 1937, di dalam bangunan maupun dibawah tanah Stupa Sumberawan tidak ditemukan rongga atau ruangan didalamnya, sehingga fungsi stupa ini tidak mungkin sebagai Dhatugarbha ataupun sebagai tempat penyimpanan reliq dari para Arhat maupun Biksu. Fungsi dari Stupa Sumberawan ini adalah sebagai lambang suci agama Budha yang dianggap bertuah dan memiliki kekuatan gaib.

Stupa Sumberawan juga sebagai sarana transformasi dari air telaga yang sudah dianggap suci. Dengan kedudukannya yang dianggap suci, stupa ini diibaratkan sebagai gunung suci, maka air telaga tersebut berubah sifatnya menjadi Amerta.

Air telaga yang sudah menjadi Amerta itu oleh masyarakat penduduknya dahulu merupakan berkah yang dapat memberi tambahan daya hidup, baik untuk keperluan upacara, pengairan sawah maupun keperluan kehidupan sehari-hari, bahkan hingga saat ini. Banyak wisatawan yang datang untuk mandi (mensucikan diri) ataupun hanya sekedar mencuci muka dengan air yang sudah dianggap suci ini.

Tidak diketahui pasti, kapan stupa Sumberawan ini didirikan. Namun menurut para ahli, bangunan ini didirikan sekitar abad 14-15 M pada masa kerajaan Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama disebutkan daerah ini dulunya bernama Kasuranggan, yaitu daerah yang pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 ketika ia pergi ke Singasari. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.