Mengenal Reyog Perempuan di Ponorogo

Petrus - 20 April 2018
Reyog yang dimainkan perempuan saat pentas di Ponorogo (foto : Istimewa)

SR, Ponorogo – Reyog merupakan kesenian yang sudah dikenal dunia, sebagai sebuah kesenian khas Ponorogo yang hampir seluruh pemainnya adalah laki-laki. Namun, ada satu Paguyuban Reyog di Kecamatan Sawoo, yang seluruh pemainnya adalah perempuan. Paguyuban yang diberi nama “Sardulo Macan Nareswari” ini beranggotakan 50 perempuan, dari usia belasan tahun sampai ibu-ibu.

Tri Heni Astuti selaku pencetus paguyuban mengatakan, paguyuban ini sudah ada sejak September 2015. Bersama rekannya, Yulengsi, ia mengajak ibu-ibu PKK yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga untuk belajar kesenian Reyog.

“Awalnya karena sering ikut kegiatan PKK dan juga sama-sama suka seni, akhirnya kami berdua sepakat untuk mendirikan Paguyuban Reyog yang seluruh anggotanya perempuan,” kata Heni, Jumat (20/4/2018).

Tri Heni Astuti menuturkan, terkadang ada anggota laki-laki saat pementasan, tetapi itu hanya sebagai pengrawit, sedangkan penabuh gamelan juga perempuan. Bahkan pembarong yang dipanggil mbak Prih, kekuatannya sudah seperti laki-laki.

“Mbak prih ini sehari-hari memang pekerjaannya sebagai buruh tani, bahkan kalau ada barang yang tidak kuat diangkat laki-laki, mbak Prih biasanya malah kuat, makanya kami jadikan pembarong,” tuturnya.

Pemain Reyog perempuan usai pentas (foto : Istimewa)

 

Heni sendiri dulunya berperan sebagai ganong, tapi karena badannya semakin gemuk dan besar, akhirnya ia berganti menjadi warok. Dalam Paguyuban Reog ini, pembagian peran dalam pementasan Reyog ditentukan dari kekuatan dan bentuk fisiknya, agar sesuai seperti pementasan Reyog pada umumnya.

“Biasanya yang usianya masih muda kami arahkan ke Jatil, kalau badannya kecil dan lincah kita jadikan Pengganong, dan kalau badannya besar kita jadikan Warok,” imbuhnya.

Heni menjelaskan, selama ini Paguyuban Reyognya masih minim prestasi, namun untuk pementasan Reyog sudah sering terlibat. Hal ini karena tidak adanya perlombaan yang dikhususkan untuk Reyog Perempuan.

“Kalau pentas kami sudah sering, bahkan pernah juga sampai ke Gresik dan Surabaya, pernah juga mengisi Festival Reyog waktu bulan purnama di Alun-alun Ponorogo,” jelasnya.

Heni menambahkan, mendirikan Paguyuban Reyog perempuan tidak semudah yang dibayangkannya, seperti cemoohan orang yang menganggap jika Reyog perempuan menyalahi kodrat, tidak membuat anggotanya mundur. Bahkan sebagian anggotanya yang sudah berkeluarga, juga mendapat tentangan dari suaminya.

“Kita hanya ingin menunjukkan jika perempuan-perempuan juga bisa berkesenian Reyog, jangan hanya menjadi penonton saja, kalau bisa kita menjadi pemainnya,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.