Mengenal Museum Musik Indonesia Pertama

Yovie Wicaksono - 2 November 2018
Koleksi di Museum Musik Indonesia. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Malang – Kemajuan teknologi membuat keberadaan piringan hitam, kaset, maupun CD (bentuk fisik) menjadi langka, karena sebagian orang beralih menggunakan aplikasi digital untuk mendengarkan musik kesayangannya.

Namun, jika ingin bernostalgia menikmati alunan musik dari musisi nasional maupun internasional era 1940 – 2000 dari bentuk fisiknya, bisa langsung datang dan berkunjung ke Museum Musik Indonesia (MMI) di Gedung Kesenian Gajayana, Jalan Nusakambangan 19, Kecamatan Klojen, Malang, Jawa Timur.

Museum Musik Indonesia, menjadi museum musik pertama di Indonesia yang mengumpulkan, memelihara, dan menyimpan diskografi musisi nasional dan internasional, serta instrument musik tradisional dari berbagai provinsi di Indonesia.

Pengelola MMI, Ari Yusuf mengatakan, tujuan pendirian MMI adalah untuk melestarikan budaya Indonesia, khususnya seni musik.

“Tujuan pendirian Museum Musik Indonesia adalah untuk melestarikan budaya Indonesia, khususnya seni musik, dan sebagai pusat dokumentasi fisik musik Indonesia,” ujar Ari kepada Super Radio, Jumat (2/11/2018).

Museum Musik Indonesia dirintis sejak tahun 2000, dengan nama awal Galeri Malang Bernyanyi. Nama Museum Musik Indonesia mulai digunakan sejak November 2016.

Salah Satu Pengunjung Sedang Memilih Kaset untuk Diputar di Museum Musik Indonesia (MMI). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

MMI memiliki 25.000 koleksi, mulai dari kaset, CD, piringan hitam, alat music tradisional dan modern, termasuk buku dan majalah seputar musik. Jumlah tersebut, 70 persennya didapat dari sumbangan masyarakat.

“Cara mendapatkan koleksi sebanyak itu, sebagian besar didapat dari sumbangan masyarakat, mungkin dirumah sudah tidak terawat atau tidak digunakan lagi, MMI menerima sumbangan tersebut, dan dua bulan sekali selalu ada sumbangan yang datang” tambah Ari.

Koleksi paling langka dari MMI salah satunya adalah dari Lokananta (perusahaan rekaman musik pertama dan satu-satunya milik negara), karena merupakan koleksi rekaman pertama Indonesia Raya 3 Stanza (bait), yang diproduksi sekitar tahun 50an . Sedangkan koleksi tertua, yakni jazz Prancis 1930.

Target kedepan MMI adalah menjadi pusat informasi atau referensi dibidang musik Indonesia maupun mancanegara. Dengan berharap pengunjung bisa betah dan memberikan wawasan seputar musik.

Salah satu pengunjung MMI, Mila Oktavia mengatakan, mendengarkan musik melalui bentuk fisik memberikan rasa yang berbeda.

“Kalau mendengarkan lagu dari aplikasi kan tinggal search aja, tapi kalau dari kaset pita harus nunggu dulu side A, sampai side B, jadi lebih ada sensasinya sendiri.” ujar salah satu mahasiswi Universitas Brawijaya Malang ini.

Selama ini MMI menyajikan koleksi berdasarkan asal penyanyinya, dan jika ingin memainkan koleksi yang ada, anda hanya perlu membayar Rp 2000 – Rp 5000 per pieces. Untuk tiket masuk seharga Rp 5000 dan buka setiap hari, mulai 10.00 – 17.00 WIB (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.