Mengajak Anak Indonesia Hargai Perbedaan Identitas

Petrus - 24 July 2018
Mengajarkan pada anak untuk menghargai perbedaan (foto : Istimewa)

SR, Surabaya – Berbagai permasalahan yang dialami anak di seluruh Indonesia, menjadi bahasan dalam Temu Anak Peduli, Pusparagam Anak Indonesia, yang digelar di Surabaya, belum lama ini. Kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh setiap tanggal 23 Juli.

Kasus perundungan atau bullying masih menjadi salah satu persoalan yang dihadari anak-anak, yang melihat perbedaan sebagai sesuatu yang menjauhkan antara anak yang satu dengan yang lainnya.

Diungkapkan oleh Reyhan, pelajar SMA asal Kabupaten Bulu Kumba, Sulawesi Selatan, perundungan dimulai dari pemahaman yang berbeda untuk melihat perbedaan yang ada di bangsa Indonesia. Ia berharap, anak Indonesia tidak lagi menjadi pelaku perundungan atau bullying, yang diawali dari saling mengejek, menghina, dan merendahkan identitas orang lain.

“Tentang bullying terhadap beberapa anak, misalnya perbedaan suku, ras, (warna) kulit, terutama dalam perbedaan gaya bahasanya, yang kadang di setiap daerah itu suka membully anak-anak yang berbeda bahasanya atau logat bicaranya dengan daerah setempatnya,” kata Reyhan.

Selain perundungan atau bullying, kasus pekerja anak juga banyak di temui di sejumlah daerah di Indonesia. Salah satunya di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Menurut Elmi Septiana, pelajar SMA asal Lombok Timur, kasus pekerja anak masih banyak ditemuui di daerahnya, yang disebabkan orang tua mereka bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

Diantara anak-anak itu terpaksa ada yang harus bekerja sambil sekolah, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Beberapa daerah kata Elmi, masih membutuhkan bantuan kemudahan akses pendidikan, serta sarana transportasi yang menunjang semangat anak untuk terus belajar.

“Untuk anak-anak yang pekerja migran, saya berharap supaya tetap semangat, pantang menyerah, tetap percaya diri, walaupun ayah dan ibunya bekerja di luar negeri untuk menafkahi. Harapan untuk pemerintah sendiri, saya menginginkan pemerintah memberikan akses, contohnya seperti baca buku, terus transportasi sekolah. Di desa saya juga, transportasi sekolah itu tidak ada sama sekali, kita itu di sana tidak ada bus sekolah,” terang Elmi.

Tim Leader Program Peduli, program yang digagas Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Abdi Suryaningati mengatakan, konflik identitas yang mengemuka akhir-akhir ini di masyarakat, turut menjadi penyebab terpaparnya anak-anak akan virus kebencian dan lemahnya rasa kebangsaan.

Bahkan, anak-anak ikut dijadikan sebagai korban maupun pelaku tindak kejahatan, terorisme, maupun intoleransi, sehingga perlu upaya bersama untuk mengatasinya.

“Proses-proses perpecahan karena identitas, identitas bisa keagamaan, bisa kesukuan, dan sebagainya. Sebenarnya kita sudah mulai lihat dari reformasi, demokrasi kita berjalan dengan baik, tetapi juga ada bertumbuhan juga konflik, yang tadinya mungkin hanya laten saja, sekarang sudah mulai mengemuka, dan salah satunya adalah perebutan kekuasaan daerah itu memperkuat konflik-konflik yang sudah ada. Bagaimana pun juga anak-anak kita ini terpapar juga di berbagai daerah dengan potensi-potensi konflik itu,” ujar Abdi Suryaningati.

Sementara itu, Plt. Deputi Perlindungan Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Sri Danti Anwar mengungkapkan, anak-anak harus diajarkan dan diberi pemahaman sejak usai dini, mengenai bagaimana menghargai nilai-nilai perbedaan yang ada di Indonesia. Edukasi dan pemahaman itu diperlukan, agar anak mampu menghargai perbedaan antar individu, sehingga mampu menjadi agen perdamaian dan persatuan dalam kebhinnekaan Indonesia.

“Kita perlu mendorong bagaimana sejak anak-anak itu juga bisa menghargai perbedaan, pruralisme, toleransi, kemudian perdamaian, persatuan, maupun juga anti kekerasan. Jadi kegiatan ini sudah mengajarkan lewat bermain maupun juga kegiatan-kegiatan diskusi dan berbagi peran, itu berusaha untuk menanamkan nilai-nilai itu tadi di dalam kerja-kerja anak kita,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.