Menekan Angka Perokok Anak Melalui Harga Rokok Mahal

Petrus - 24 July 2018
Ilustrasi. Bahaya rokok mengancam anak akibat perilaku orang tua yang kurang sadar akan bahaya rokok bagi kesehatan (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Persoalan bahaya rokok bagi kesehatan masih menjadi pro dan kontra antara di masyarakat. Sebagian ada yang mendukung, yang lainnya ada yang menolak. Pemerintah didesak untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak mengenai bahaya asap rokok bagi kesehatan, melalui penerapan harga rokok yang mahal. Hal ini diungkapkan Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga Surabaya, Santi Martini, dalam sebuah diskusi di Surabaya, belum lama ini.

Santi mengatakan, mudahnya anak-anak membeli rokok yang harganya murah, menjadi salah satu faktor masih tingginya angka anak merokok di Indonesia. Harga rokok yang mahal, atau minimal Rp. 50 ribu per bungkus, diharapkan menyulitkan anak dan remaja untuk mengakses rokok.

“Edukasi mengenai bahaya tentang asap rokok itu harus terus diberikan, tidak bisa terus edukasi sekali diberikan, terus orang akan berubah, orang akan sadar, kita tahu teorinya gimana sih perubahan perilaku itu kan tidak sekali dua kali seperti membalikkan telapak tangan, memang itu harus terus menerus,” kata Santi.

Peraturan perundangan serta implementasi di masyarakat seharusnya mampu menjadi alat untuk mengendalikan rokok. Tidak hanya melindungi industri atau pekerja di bidang rokok, melainkan juga melindungi anak-anak dari bahaya asap rokok.

“Perlu kebijakan yang sifatnya sistematis, ada regulasi, baik itu kawasan tanpa rokok, peringatan kesehatan dalam bentuk gambar, harga rokok naik, itu harus ada dalam bentuk peraturan, dan peraturan itu harus ditegakkan,” ujar Santi.

Data Riset Kesehatan Dasar menyebutkan adanya prevalensi merokok pada penduduk Indonesia usia diatas 15 tahun masih tinggi. Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN mencatat, sekitar 20 juta anak atau 30 persen anak-anak Indonesia usia dibawah 10 tahun adalah perokok, dengan pertumbuhan prevalansi perokok anak dan remaja sebesar 19,4 persen.

Jumlah ini merupakan yang tercepat di dunia, dan menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga terbesar di dunia dalam hal jumlah perokok terbanyak setelah Cina dan India, yang berjumlah sekitar 75 juta jiwa atau 35 persen dari total populasi. Sekitar 7 juta orang setiap tahun di seluruh dunia meninggal dunia akibat rokik, dimana 1,3 juta orang per tahun berasal dari Asia Tenggara.

Santi Martini mengatakan, diperlukan normalisasi merokok pada masyarakat, dengan terus menerus melakukan penyadaran mengenai bahaya merokok. Media periklanan yang selama ini menjadi sarana perubahan budaya dan pemahaman masyarakat mengenai merokok, telah menjadi alat propaganda manfaat rokok yang keliru di masyarakat.

“Perlu kita sampaikan, adalah mereka sadar kalau merokok itu berbahaya, denormalisasi merokok. Kita harus buat pemahaman di masyarakat, merokok itu upnormal, tidak normal, makanya kenapa harus ada iklan, mengiklankan berarti kayak sesuatu yang normal. Salah satunya ya iklan gak boleh ada, merokok pada tempat tertentu, tidak boleh sembarang orang merokok. Kalau anak kecil jarang lihat (orang) merokok di sembarang tempat, sehingga pada suatu saat dia akan melihat orang merokok, loh aneh. Sementara orang bisa merokok dimana-mana, sehingga kita lihat orang merokok itu normal, maka kita harus bangun denormalisasi itu,” papar Santi.

Penerapan harga rokok yang mahal dipercaya mampu mengurangi konsumsi rokok, terutama di kalangan anak dan remaja. Ketua Forum Anak Surabaya, Akmal Choiron mengatakan, harga rokok mahal merupakan salah satu cara untuk mengurangi konsumsi rokok, meski hal itu tidak terlalu signifikan mengurangi angka perokok anak. Pengurangan akan lebih signifikan bila iklan rokok tidak lagi ditampilkan di ruang publik, baik melalui televisi maupun papan reklame di jalanan.

“Untuk mengurangi penggunaan rokok, cara yang paling efektif bisa dimulai dari pemangkasan budaya rokok, bisa dimulai dari berhentinya iklan-iklan rokok dan menghilangkan citra rokok di masyarakat bahwa rokok itu adalah sesuatu yang wajar dan baik,” terang Akmal.

Upaya mengurangi konsumsi rokok juga dilakukan organisasi kemasyarakatan keagamaan Aisyiyah. Bahkan fatwa haram juga telah dikeluarkan ormas keagamaan Muhammadiyah, yang merupakan induk organisasi Aisyiyah.

Ketua Majelis Kesehatan, Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Sophiati Sutjahjani mengatakan, selain didasari fatwa haram dari Muhammadiyah, larangan merokok juga diterapkan Aisyiyah di seluruh amal usaha miliknya. Bahkan, para murid juga didorong untuk menjadi agen perubahan yang mampu mengajak keluarganya yang merokok menjadi berhenti merokok.

“Amal usaha kami itu mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Juga amal usaha kesehatan, klinik-klinik, rumah sakit. Amal usaha yang lain yang punya kantor-kantor, kami melakukan gerakan bersama penyebaran informasi, tempat-tempat bekerja itu menjadi kawasan tanpa rokok. Di sektor pendidikan, kami mengembangkan proses belajar yang sesuai dengan fatwa (Muhammadiyah) tadi, agar guru-guru itu menjadi teladan, guru-guru tidak merokok,” ujar Sophiati.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.