Mendorong Keluarga Mewujudkan Anak Indonesia Bebas dari Kekerasan Tahun 2030

Petrus - 24 July 2018
Anak-anak Indonesia berhak mendapatkan hak dasar, salah satunya bebas dari kekerasan (foto : Istimewa)

SR, Surabaya – Kementerian Peringatan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  menargetkan Indonesia bebas dari tindak kekerasan terhadap anak pada 2030. Hal ini disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2018, di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur.

Menurut Yohana, terpenuhinya hak anak termasuk terputusnya mata rantai kekerasan, diharapkan dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang ramah anak.

“Mereka yang akan menjadi pemimpin masa depan, dan kami harap bahwa targetnya 2030 sudah tidak ada kekerasan di negara ini, dan merekalah yang akan memutuskan mata rantai kekerasan,” kata Yohana Tembise, Senin (23/7/2018).

Terkait masih banyaknya kasus-kasus kekerasan yang dialami maupun yang melibatkan anak, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, mengingatkan kembali pentingnya pemenuhan hak anak oleh orang dewasa. Menurut Seto, berbagai kasus yang melibatkan anak tidak lepas dari ketidakpedulian orang dewasa terhadap hak anak, antara lain hak anak untuk bersuara dan didengarkan.

“Kesadaran untuk memenuhi hak anak yang paling sederhana, mendengar suara anak saja. Salah satu hak dasar anak adalah berpartisipasi, termasuk didengar suaranya. Jadi rapat keluarga, dalam bentuk dongeng, dalam bentuk cerita, kemudian mendengar cerita anak, pulang sekolah anak-anak kandang hanya ditanya, dapat nilai berapa, nakal atau tidak, tidak pernah (bertanya) senang tidak tadi di sekolah. Sekarang ini sebetulnya yang masih terus mendera anak adalah ketidakpedulian terhadap mereka,” terang Seto Mulyadi.

Kasus-kasus kekerasan terhadap anak seharusnya tidak perlu terjadi, bila orang dewassa memahami hak anak. Termasuk kekerasan di dalam keluarga, orang tua diharapkan menyadari perannya dalam keluarga dengan mampu menempatkan diri sebagai teman atau sahabat bagi anak-anaknya. Seto menekankan pentingnya anak merasa nyaman berada di dalam rumah, dan berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain.

“Orang tua memosisikan sebagai sahabat putera-puterinya, temannya anak-anak. Kadang-kadang kan main perintah, main instruksi, main komando, beberapa anak kabur dari rumah. Nah, marilah para ibu jadi sahabat anak, para ayah juga sahabat anak, sehingga tidak ada kekerasan, tidak ada sesuatu yang membuat anak menjadi tertekan di dalam keluarga,” ujar Seto.

Interaksi anak dan orang tua dalam keluarga dapat dilakukan dengan menerapkan jam kumpul bersama, melalui Gerakan 18-21. Seto mengatakan, orang tua diajak untuk memanfaatkan Gerakan 18-21 dengan membebaskan diri dari televisi maupun gawai, dan diganti dengan saling berdialog atau belajar bersama.

“Gerakan 18-21, jam 18.00 sampai 21.00 itu semua televisi, semua handphone, stop. Itu ada gerakan 3B, ikut bermain, berdialog atau bercerita-dongeng, dan belajar. Termasuk juga belajar agama, belajar nilai moral, tapi dalam suasana ngobrol dari hati ke hati,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.