Mendekati Pilpres 2019, Hoax Tetap Jadi Ancaman Persatuan Bangsa

Yovie Wicaksono - 31 August 2018

SR, Surabaya – Mendekati tahun politik 2019 dengan gelaran Pemilihan Presiden dan Legislatif, tensi politik semakin meningkat dengan munculnya 2 bakal calon Presiden yang akan bersaing. Persaingan politik itu juga membawa berbagai gejolak di masyarakat, terutama penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan alias hoax.

Penyebaran berita bohong, fitnah atau hoax disertai muatan SARA telah berlangsung beberapa tahun terakhir, mewarnai perhelatan pemilu maupun pilkada yang menunjukkan efek negatif dari hoax bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan hoax sudah dianggap sebagai informasi atau berita yang benar akibat masifnya penyebaran hoax.

Khanis Suvianita, aktivis dan mahasiswi program S3 untuk studi antar agama mengatakan, maraknya berita hoax tidak dapat dilepaskan dari orang yang bertindak sebagai produsen dan pendistribusi hoax. Secara psikologis, pembuat dan penyebar hoax merupakan pribadi yang ingin dikenal dan diakui keberadaannya. Namun sayangnya, wujud menampilkan diri kepada orang lain ini dilakukan dengan memproduksi dan membagikan hoax.

“Orang itu kan secara natural ingin direcognize, ingin diketahui, ingin dilihat. Demokrasi yang berkawin dengan sosial media itu memberi ruang, karena bisa mengcreated berita, bisa mengcreated narasi, cerita, lalu bisa membagikannya, atau mendapat dari mana dan membagikannya,” kata Khanis, dalam sebuah diskusi di kampus Universitas Surabaya, Jumat (31/8/2018).

Sedangkan masyarakat juga tidak memiliki pengetahuan dan sumber infornasi yang memadai untuk membedakan informasi atau berita itu hoax atau tidak.

“Kemudian orang ingin diconfirm bahwa dia betul, bahwa dia benar, kadang-kadang kisah yang dibuat itu untuk mengatakan bahwa dirinya benar,” imbuhnya.

Penyebaran berita atau informasi hoax saat ini telah menjadi amcaman yang membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih isu Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) hingga ujaran kebencian menjadi narasi yang terus disuarakan.

Koordinator Mayarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Surabaya, Adven Sarbani mengatakan, peran serta pemerintah maupun masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengatasi dan mengantisipasi efek negatif hoax. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan klarifikasi berita yang benar kepada masyarakat.

“Pemerintah harus pro aktif, semua pemangku kepentingan, media, semuanya harus merasa bertanggung jawab untuk mengendalikan, mengantisipasi, dan juga mengklarifikasi. Bahwa suatu isu harus segera diklarifikasi dan jangan sampai menyebar terlalu lama, jangan sampai hitungan hari, hitungan jam segera harus ada klarifikasi kebenarannya,” papar Adven.

Presidium Mafindo, Rovien Aryunia mengungkapkan, keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan untuk meredam penyebaran hoax yang masif di masyarakat. Mafindo telah terlibat dalam upaya melawan hoax, diantaranya melalui edukasi dan penyampaian berita yang benar kepada masyarakat, melalui kampanye langsung serta melalui sosial media.

“Kita selalu menggunakan media sosial dengan sebaik-baiknya, terutama supaya kita berhati-hati dalam melakukan posting, apa yang kita posting, selalu mencek ricek sebelum kita berbagi informasi, termasuk mengedukasi WA-WA grup yang kita ikuti. Melakukan debunk berita yang benar,” ujar Rovien.

Pemakaian hoax dengan muatan isu SARA, harus diwaspadai masyarakat yang selama ini selalu dimanfaatkan oleh pemilik kepentingan. Pembekalan literasi digital dan non-digital harus diberikan kepada masyarakat sebagai perlawanan terhadap hoax, sehingga masyarakat mampu membedakan hoax dan tidak mudah dipancing provokasi yang dapat mengobarkan konflik.

Presidium Mafindo, Anita Wahid mengatakan, hoax dalam konteks politik telah terbukti sebagai senjata efektif untuk meraih apa yang diinginkan.

“Hoax juga menjadi alat untuk mempengaruhi masyarakat Indonesia yang tingkat literasinya masih rendah,” ujar Anita.

Banyak masyarakat kata Anita, tidak mengetahui bahwa fitnah yang disebarkan merupakan alat, senjata konflik yang paling besar di era informasi saat ini. Kontestasi politik beberapa tahun terakhir, telah memanfaatkan fitnah dan hoax untuk mencapai tujuannya.

“Sekarang sangat penting untuk masyarakat membekali dirinya dengan literasi digital, literasi apa pun termasuk juga yang non-digital, karena sekarang banyak fitnah yang disebarkan melalui selebaran,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.