Menarik, Lukisan Dengan Media Kayu Nangka Lapuk

Petrus - 14 November 2017
Edi pembuat lukisan kayu nangka (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Kini kegiatan melukis bisa dilakukan dengan media dan bahan apa saja, termasuk bahan yang tidak biasa atau unik. Di bumi reog Ponorogi misalnya, telah ada pelukis ampas kopi, bahkan ada pula batik lukis.

Hal senada juga dilakukan oleh Eko Langgeng Edi Sarwono (30 tahun) yang melukis menggunakan media kayu nangka lapuk, dengan cara dibakar menggunakan solder yang sudah dimodifikasi.

Berawal dari ketidaksengajaan saat menebang pohon dibelakang rumahnya, ia menemukan kayu nangka tumbang. Usai dicek, tekstur kayu nangka yang empuk membuatnya berinisiatif membuat lukisan dengan media kayu.

“Hobi saya sejak kecil memang melukis dan menggambar, kini tersalurkan dengan adanya project baru ini,” tuturnya saat ditemui di kediamannya, di Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, Selasa (14/11/2017).

Meski baru digeluti sejak sebulan terakhir, hasil karya Edi diminati banyak orang. Terbukti sudah ada 50-an pesanan mengantri untuk dibuatkan. Mulai dari gambar wayang, tokoh, sketsa wajah dan logo.

“Peminat ada yang dari kalangan orang tua dan remaja, biasanya paling banyak itu sketsa wajah,” jelasnya.

Bapak dua orang ini mengatakan untuk proses pembuatan gambar, ia dibantu oleh istri dan tetangganya. Untuk gambar wayang, dalam sehari ia mampu membuat 3-4 gambar. Sedangkan untuk sketsa wajah, ia harus lebih berhati-hati karena jika salah bakar bisa mengubah bentuk wajah yang akan dibuat.

“Salah gradasi juga bisa membuat sketsa wajah berubah,” ujarnya.

Edi menerangkan untuk satu gambar wayang dibanderol dengan harga Rp. 100 ribu, sketsa wajah dijual dengan harga Rp. 150 ribu, dan kalau ada yang meminta gradasi dibanderol mulai Rp. 200 ribu. Pemasaran ia lakukan melalui media sosial instagram. Pembeli datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Magetan, Solo, Surabaya, Batam, Kalimantan dan Bali.

“Tapi saya sendiri sekarang sulit mencari kayu nangka yang lapuk,” cakapnya.

Kesulitan bahan baku lah yang membuatnya harus rela mencari kayu nangka lapuk hingga ke hutan di sekitar tempat tinggalnya. Pasalnya, jika memakai kayu nangka yang masih hidup, teksturnya dinilai kurang bagus. Menyiasati hal ini, ia pun memotongi kayu nangka dengan cara menyamping, agar terlihat lebar.

“Usai dilukis, kayu kemudian difinishing dengan pengeras kayu anti rayap dan pengawet batu, agar warna kayu tidak pudar dan tidak mudah lapuk,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.