Menangkal Radikalisme Agama dan Intoleransi di Indonesia

Petrus - 25 October 2018

SR, Surabaya – Persoalan radikalisme dan intoleransi yang masih marak terjadi, menjadi pekerjaan rumah serius yang dihadapi bangsa Indonesia. Sentimen dan fanatisme agama menjadi sumber munculnya sikap intoleran dan radikal di kalangan masyarakat.

Lembaga Pendidikan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) bersama Nurcholish Madjid Society (NCMS) mengadakan Kajian Titik Temu yang mengangkat tema ‘Menggali Akar Radikalisme dan Intoleransi di Indonesia, di Surabaya, Kamis (25/10/2018).

Menghadirkan para pembicara yaitu KH Ahmad Ishomuddin selaku Rais Syuriah PBNU, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Masdar Hilmy, serta Muhamad Wahyuni Nafis selaku Ketua Yayasan NCMS, diskusi ini hendak menggali akar persoalan radikalisme dan intoleransi di Indonesia. Selain itu, juga dibahas upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah tindakan intoleran dan radikalisme yang semakin marak memasuki tahun politik 2019.

Diuangkapkan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof. Masdar Hilmy, tindakan radikalisme berlatar belakang agama tidak hanya dipengaruhi satu faktor saja, namun juga faktor lain yang berada di tengah masyarakat. Masdar Hilmy mengatakan, radikalisme agama kata harus diakui muncul dalam ayat-ayat di kitab suci, yang banyak diikuti dan dijakani tanpa pertimbangan relevansi yang sesuai konteks.

“Kita harus rendah hati mengatakan bahwa memang di dalam teks suci kita ini, ada banyak ayat-ayat yang menyuruh kita ini untuk berperang dan membunuh. Nah, persoalannya adalah apakah ayat-ayat tadi itu harus kita terapkan apa adanya, tanpa mempertimbangkan relevansi konteksnya,” tutur Masda Hilmy.

Sementara itu, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Ishomuddin menegaskan, akar munculnya radikalisme dipengaruhi pemahaman ilmu agama yang sempit dan dangkal. Agama yang dianut setiap manusia, seharusnya menarik orang pada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.

Selain pengetahuan agama yang rendah, radikalisme juga dipengaruhi wawasan masyarakat yang kurang luas dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama yang terkait kebhinnekaan di Indonesia.

“Mereka tidak memiliki ilmu agama yang mendalam, akhlak yang mulia, lebih mengedepankan hawa nafsu daripada ilmu. Selain tentu ada faktor-faktor lain, yang membentuknya, seperti merasa tertindas, merasa kalah dalam persaingan di bidang ekonomi, politik, serta tidak menemukan jalan keluar bagi suatu masalah, sehingga jalan kekerasan dan pengingkaran terhadap perbedaan-perbedaan adalah jalan keluarnya,” ujar Ishomuddin.

Para pemeluk agama di Indonesia kata Ishomuddin, harus kembali pada ajaran agamanya masing-masing, yang mengajarkan kebaikan dan cinta kasih di dunia. Umat beragama juga harus mau belajar agama secara benar, melalui tuntunan pemuka agama atau ulama yang ilmunya terpercaya. Ishomuddin berpesan pada warga NU, agar mencintai tanah airnya.

“Khusus bagi Nahdliyin, ikutilah para Kyai NU yang ilmunya terpercaya, mendalam di bidang agama, dan mereka orang-orang yang cinta tanah air. Orang yang betul-betul mendalami ilmunya dan cinta tanah air, tidak akan membuat kerusakan di tanah airnya sendiri, dia tidak akan berbuat dzolim kepada orang lain,” tuturnya.

Ketua Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society (NCMS), Omi Komaria Madjid mengatakan, radikalisme dan intoleransi dapat diatasi dengan mengajak semua elemen bangsa untuk bersikap rendah hati dalam beragama. Menurut Omi, berbagai keanekaragaman yang dimiliki Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus diterima dan disyukuri, sebagai bentuk pengakuan dan kepatuhan manusia pada kehendak Tuhan.

“Kebhinnekaan itu secara positif terima bahwa itu sebagai anugerah dari Tuhan. Nah karena augerah dari Tuhan, itu kita jangan mengingkari dan apalagi melawan, karena kalau mengingkari atau melawan, berarti mengingkari atau melawan kehendak Tuhan itu. Maka dari itu, kita secara aktif untuk mewujudkan itu, untuk memelihara pemberian Tuhan itu,” pungkas Omi.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.