Menangkal Berita Hoax, UKWMS Ajak Generasi Muda Terlibat Penguatan Pengawasan Obat dan Makanan

Petrus - 20 January 2018
Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengisi kuliah umum di Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (foto : Humas UKWMS)

SR, Surabaya – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Penny Kusumastuti Lukito, mengisi kuliah tamu di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Kampus Pakuwon, Jumat (19/1/2018). Kuliah tamu mengangkat tema “Indonesia Sehat, Masyarakat sebagai Pilar Terakhir Pengawasan Obat dan Makanan”.

Dalam paparannya, Penny menjelaskan mengenai tugas dan tanggungjawab BPOM sebagai badan yang mempunyai tugas untuk melakukan pengawasan. Sehingga BPOM harus melakukannya secara rinci dari proses sebelum pemasaran hingga pengedaran sebuah produk makanan dan minuman maupun obat-obatan.

“Tujuan dari BPOM ini bisa disebut dengan full spectrum. Jadi kita mengawasi dari bahan baku yang digunakan, proses produksi apakah sudah sesuai dengan standar, hingga setelah produksi dilakukan pengawasan,” kata Penny.

Pengawasan peredaran makanan dan obat-obatan diharapkan dapat berfungsi memberikan efek jera pada para pelaku. Namun masih juga muncul permasalahan, ketika proses pengawasan bisa menimbulkan efek yang cukup besar hingga ke pemerintahan.

“Masalah yang pertama adalah penggunaan bahan makanan yang berbahaya, dan yang kedua berupa penyalahgunaan obat. Beberapa jenis obat seperti PCC banyak disalahgunakan untuk sesuatu yang lain. Obat-obat tersebut seharusnya untuk kesehatan, tetapi dikonsumsi secara berlebihan untuk menghilangkan stres,” terang Penny.

Efek kedua dari masalah ini akan berakibat pada biaya kesehatan yang dikeluarkan pemerintah. Semakin banyak masalah kesehatan yang muncul, maka pemerintah semakin banyak mengeluarkan biaya untuk kesehatan.

Terkait pengawasan, BPOM membutuhkan bantuan dari akademik, pelaku bisnis, komunitas serta dari pemerintah secara keseluruhan. Tahun 2017 lalu, pemerintah memberikan respon positif dengan mendukung gerakan ‘Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahangunaan Obat’, oleh Presiden Presiden Joko Widodo yang mendukung secara langsung.

Ketua BPOM Penny Kusumastuti Lukito usai penandatanganan nota kesepahaman dengan Rektor UKWMS Kuncoro Foe (foto : Istimewa)

 

Akhir-akhir ini banyak beredar informasi-informasi di media sosial yang sifatnya meresahkan, yang dapat menimbulkan kepanikan dan berpotensi memecah belah masyarakat. Informasi yang menyaru ‘benar’ tapi sebenarnya tidak bisa dipertanggungjawabkan inilah yang biasa disebut sebagai hoax.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut sekitar 800.000 situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu atau hoax. Tidak hanya seputar ujaran kebencian dan provokasi politik, hoax juga sering hadir dalam bentuk informasi terkait makanan dan obat-obatan.

“Hal ini berbahaya, karena meskipun dilatarbelakangi maksud baik, menyebarkan informasi yang salah seputar makanan dan obat-obatan bisa menimbulkan resiko yang fatal,” terang Sumi Wijaya, Dekan Fakultas Farmasi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Menjadi generasi muda masa kini yang banyak terkoneksi dengan dunia luas, sudah seharusnya mampu membantu menangkis berita-berita hoax, serta turut peduli akan pengawasan di lingkungan sekitarnya. Generasi muda diharapkan tidak bersikap apatis, bahkan ikut menyukai dan membagikan unggahan melalui media sosial terkait penggunaan bahan makanan yang salah.

“Mengetahui tetangga menggunakan olahan pangan yang tidak baik, tetapi malah ikut jadi konsumen atau tidak melaporkan. Hanya sesederhana itu, bersikap apatis dan acuh tak acuh,” ujar Kuncoro Foe, Rektor UKWMS selaku moderator.

Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa harus mau terlibat aktif sebagai penguatan ke empat pilar Pengawasan Obat dan Makanan di Indonesia. Keterlibatan itu dapat dilakukan melalui berbagai media dan sarana, yakni berupa penyebaran informasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keamanan, manfaat, mutu obat dan makanan. Dunia pendidikan juga dapat mendukung dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan inovasi dan kreativitas teknologi di bidang Obat dan Makanan.

“Artinya, kami sebagai institusi pendidikan perlu berperan aktif dan positif sebagai agen-agen anti-hoax, dalam membendung dan mengklarifikasi berita hoax terkait Obat dan Makanan yang cenderung semakin intensif dan meresahkan masyarakat akhir-akhir ini,” tandas Kuncoro Foe.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.