Meminimalkan Dampak Gempa Melalui Pengenalan Karakteristik Tanah

Petrus - 12 October 2018

SR, Surabaya – Pakar geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan penelitian terhadap kondisi tanah Kota Surabaya. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari adanya patahan yang berpotensi menimbulkan gempa di Kota Surabaya, serta berkaca dari bencana alam yang menimpa Lombok, Palu, Donggala, serta di sekitar Situbondo dan Madura.

Penelitian ini dilakukan sebagai sarana mitigasi, agar bisa menekan kerugian baik materiil ataupun nonmateriil akibat gempa. Dosen Teknik Geofisika ITS, Amien Widodo menjelaskan, penelitian ini didasarkan pada
penemuan adanya dua patahan aktif yang melewati Kota Surabaya, yang diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) awal September 2017.

Kedua patahan itu adalah patahan Surabaya dan patahan Waru. Patahan Surabaya meliputi kawasan Keputih hingga Cerme. Sedangkan patahan Waru yang lebih panjang lagi melewati Rungkut, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Saradan, bahkan sampai Cepu.

“Dengan adanya data seperti ini, kita harus memetakan dampak akibat gempa yang dihasilkan,” kata Amien Widodo, Kamis (11/10/2018).

Amien mengatakan, selain dipengaruhi kuat struktur bangunan, kondisi tanah juga menjadi parameter untuk melihat efek yang ditimbulkan oleh gempa. Hal ini karena tanah memiliki karakteristik yang berbeda saat dikenai beban gempa.

“Tanah memiliki karakter sendiri saat terkena gempa, mereka bisa saja mengalami likuifaksi ataupun amplifikasi,” papar Amien.

Pakar Geologi Bahaya ini mengungkapkan, likuifaksi merupakan peristiwa yang terjadi pada tanah yang memiliki lapisan pasir. Di dalam tanah itu terdapat air dalam kondisi jenuh, yang kemudian akan mendorong ke atas dan mengakibatkan pasir dan air langsung keluar.

“Air itu menjadi bertekanan saat terkena beban gempa,” ujarnya.

 

Amien yang merupakan Kepala Laboratorium Geofisika Teknik dan Lingkungan ITS mengungkapkan, untuk kawasan Surabaya Timur dan Utara yang jenis tanahnya berupa endapan rawa, ini akan lebih berpotensi mengalami amplifikasi. Di mana amplifikasi itu merambat melalui tanah yang lunak dan menghasilkan amplitudo yang besar. Pembesaran ini yang nantinya akan mempengaruhi energi dari gempa.

“Dengan kata lain, kekuatannya akan berlipat beberapa kali,” kata dia.

Ditanya mengenai cara pencegahannya, Amien menyebutkan bahwa pemadatan tanah menjadi salah satu hal yang solutif untuk dilakukan. Selain itu, penggunaan fondasi tiang pancang pada bangunan bertingkat, juga dapat dilakukan untuk mengurangi dampak dari amplifikasi.

“Sebenarnya sudah banyak yang tahu kalau kualitas tanah di Surabaya kurang baik, hal itu terlihat dari tingginya pengurukan tanah sebelum membuat bangunan,” ungkapnya.

Dalam penelitian yang masih dilakukannya, Amien menambahkan bahwa masih ada kemungkinan terjadinya likuifaksi di wilayah Surabaya. Selain karena endapan rawa, juga terdapat tanah yang berjenis endapan pasir pantai.

Namun, Amien mengaku belum dapat menentukan rincian luas tanah yang terdampak, karena penelitian tanah yang berlangsung sifatnya hanya memindai lapisan.

“Kalau dilanjutkan dengan melakukan pengeboran, bisa dilihat berapa luas tanah yang berpasir dan sebagainya,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.