Melihat Sejarah Penjajahan Jepang Melalui Lobang Jepang

Yovie Wicaksono - 8 February 2019
Pengunjung Berpose di Depan Pintu Masuk Lobang Jepang, di Bukittinggi, Sumatera Barat. Foto : (Super Radio/ Niena Suartika)

SR, Padang – Salah satu peninggalan bersejarah pada masa penjajahan yang dapat menggambarkan betapa kejamnya penjajahan Jepang, adalah Lobang Jepang, yang terdapat di Bukittinggi,  Sumatera Barat.

Untuk bisa sampai ke Lobang Jepang ini, dari Padang harus melalui waktu tempuh 2 jam menggunakan kendaraan hingga ke Bukittinggi. Lokasinya berada di dalam Taman Panorama yang terdapat di wilayah Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Sangat mudah untuk sampai ke tempat ini, dari Jam Gadang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saja.

Salah satu pemandu wisata di Lobang Jepang, Yuddy menjelaskan, terdapat 21 lobang/ruangan yang saling terhubung. Ada ruang amunisi, ruang tidur, ruang pengintaian, ruang pelarian, ruang penyiksaan, ruang sidang, ruang rapat, penjara dan dapur, bahkan hingga lorong yang dipergunakan untuk melakukan bunuh diri.  Semuanya terhubung satu dengan yang lain.

“Panjang lobang Jepang ini sekitar 25 km persegi. Lobang ini mengitari seluruh tempat di Bukittinggi,  maka dari itu di sini tidak ada gedung yang lebih tinggi dari Jam Gadang yang merupakan ikon kota ini,” kata Yuddy.

Yuddy yang sudah berprofesi sebagai pemandu wisata selama 16 tahun itu mengatakan,  pembuatan lobang Jepang ini berakhir ketika Hirosima dan Nagasaki dibom atom oleh Sekutu. Ketika itu,  ratusan romusha yang bekerja dikumpulkan dan mereka dihabisi seketika.

“Setelah itu pasukan Jepang ini melompat dari lorong yang dibuat sebagai tempat harakiri (bunuh diri). Mereka terjun ke jurang yang memiliki tinggi kurang lebih 70 meter, ” kata Yuddy.

Yuddy mengatakan, tanah di Lobang Jepang ini juga memiliki keistimewaan tersendiri. Menurutnya,  hampir seluruh tanahnya mengandung emas,  intan,  dan berlian. Sehingga tidak heran ketika memasuki area Lobang Jepang itu banyak bagian yang seperti habis tercongkel.

“Setelah Jepang pergi memang ada saja tangan-tangan jahil yang mengorek-orek tanah di sini. Oleh sebab itu, Pemda setempat tanah tersebut ada yg dipasir agar tidak bisa diambil,” kata Yuddy.

Bagian paling terlihat seram dari Lobang Jepang yaitu ruang penjara dan ruang dapur. Jarak kedua ruang itu dekat. Dikatakan,  jika para tahanan sudah hampir mati di penjara maka mereka dikeluarkan oleh tentara Jepang untuk kemudian disiksa sampai mati di ruang dapur. Setelah itu,  mereka kemudian membuangnya ke sungai melalui sebuah lobang kecil yang ada di dapur.

“Setelah para tahanan ini mati,  pasukan Jepang kemudian membuat tanda di tembok. Tanda ini juga sebagai penanda bahwa tidak ada tahanan yang kabur, ” kata Yuddy.

Suasana di Sekitar Lobang Jepang, Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Foto : (Super Radio/Niena Suartika)

Panorama Alam yang Indah

Sebenarnya sebelum memasuki area Lobang Jepang,  pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Oleh masyarakat setempat dinamakan Ngarai Sianok.

“Ngarai Sianok itu seperti Green Canyon. Ada juga tangga-tangga yang mirip seperti tembok besar Cina,” kata Yuddy.

Ia mengatakan,  dalam satu hari biasanya ia menemani puluhan pengunjung. Namun jika waktunya hari libur bisa ratusan. “Setiap harinya kalau hari-hari biasa hanya puluhan,  tapi kalau sudah hari libur bisa sampai ratusan,” kata Yuddy.

Selain itu,  pada Maret dan April juga akan banyak pengunjung dari Jepang. Dikatakan,  mereka tidak pernah masuk ke dalam tetapi hanya berdoa di atas lobang tersebut.

Sementara itu, pengunjung dari Jakarta, Yuli mengatakan,  tertarik datang ke Lobang Jepang untuk mengetahui sejarah penjajahan yang dilakukan negara Jepang. Menurutnya, pasukan Jepang sangat kejam tapi juga cerdik.

“Saya bisa melihat bagaimana mereka bisa mengatur dengan membuat lobang tersebut,  mulai dari tempat melarikan diri,  membuang mayat yang mati, hingga merampas hasil panen petani dan dibawa ke Lobang itu, ” kata Yuli.

Ia menyayangkan banyaknya para pemandu wisata yang tidak terorganisir dengan baik oleh Dinas setempat. “Harusnya kalau sudah satu yang jadi tour guide jangan banyak-banyak. Belum lagi kalau mereka maksa,” kata Yuli. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.