Masyarakat dan Pemerintah Banyuwangi Proaktif Antisipasi Gerakan radikal dan Intoleransi

Petrus - 19 September 2017
Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi I Made Cahyana Negara bersama dengan Kepala Bakesbangpol, Ketua MUI dan tokoh umat beragama dalam seminar sehari menangkal radikalisme dan sikap intoleransi (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Banyuwangi – Mengantisipasi berkembangnya gerakan radikal dan intoleransi di Kabupaten Banyuwangi, pemerintah diminta tidak hanya prihatin saja, namun pro aktif bersama-sama dengan stakeholder dan seluruh lapisan masyarakat untuk tidak memberi ruang kepada organisasi atau kelompok-kelompok radikal.

Hal tersebut disampaikan oleh ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi I Made Cahyana Negara saat digelarnya acara sarasehan yang dilaksanakan oleh Bakesbangpol Banyuwangi, dengan tema menangkal radikalisme dan sikap intoleran di kalangan umat beragama. Bertempat di hall Istana Gandrung, Senin (18/9/2017)

Made menjelaskan, di tahun-tahun yang lalu paham radikal dan sikap intoleran tumbuh berkembang di Indonesia karena adanya ruang. Sebelum reformasi berjalan, rakyat Indonesia dipimpin oleh presiden yang otoriter. Padahal bibit radikalisme dan sikap intoleransi saat itu sudah ada.

“Pada saat sistem peerintahan dari otoriter ke reformasi, maka bibit radikalisme yang sudah tumbuh semakin berkembang karenanya ada ruang. Dengan dalih kebebasan berpendapat dan kebebasan berkumpul,” ujarnya.

Dikatakan juga oleh Made, dengan adanya konflik-konflik sosial, isu sara dan juga sentimen kelompok, diharapkan pemerintah peka dan menjadikan hal ini momentum untuk meneguhkan kembali jiwa-jiwa Pancasila. Pemerintah tidak boleh diam dan hanya berkata prihatin, namun bergerak bersama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat dan stakeholder untuk mempersempit ruang gerak paham radikalisme dan intoleransi.

“Beruntung kita yang berada di Banyuwangi, meskipun bibit-biit radikalisme dan sikap intoleransi hampir menyebar di seluruh Indonesia, namun Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tanggap untuk bersama-sama mempersempit ruang gerak paham tersebut,” katanya.

Perdulinya seluruh lapisan masyarakat bersama Forpimda (Forum Pimpinan Daerah) Kabupaten Banyuwangi akan jiwa Bhineka Tunggal Ika ini, terbukti dengan mendapatkannya anugerah dari Pemerintah Pusat yakni Harmony Award.

Sementara itu, seminar sehari tersebut, juga dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas agama, ormas keagamaan, FKUB dan Ketua MUI Kabupaten Banyuwangi, KH. Mohammad Yamin, serta Kepala Bakesbangpol Kabupaten Banyuwangi, Wiyono.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.