Mahfud MD Minta Masyarakat Pahami Pluralisme

Fena Olyvira - 20 January 2019
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Foto : (MI)

SR, Palangka Raya – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan banyaknya konflik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia dinilai merupakan imbas pemahaman yang salah dari sejumlah masyarakat tentang kehidupan bernegara.

“Masyarakat harus memahami ideologi negara kita dan pemahaman tentang pluralisme secara benar,” kata Mahfud MD saat menjadi pembicara pada perayaan Natal Kebangsaan di Palangka Raya, Sabtu (19/1/2019).

Melansir Antara, menurut Mahfud pluralisme adalah keadaan masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai kebudayaan yang berbeda dan tergabung dalam sebuah kesatuan.

Pemahaman inilah yang harus ditanamkan masyarakat, agar tidak mudah terpecah belah oleh isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang dihembuskan oleh oknum tidak bertanggung jawab, kata anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila tersebut.

Jika seseorang yang beragama namun menyimpan kebencian terhadap perbedaan, maka ia perlu mendapat pencerahan. Sebab orang yang beragama justru tidak akan memiliki rasa benci terhadap orang lain.

“Mengaku beragama tapi kok menakut-nakuti. Seseorang yang beragama harusnya membuat orang lain senang bukan sebaliknya,” ujarnya.

Mahfud bercerita, dirinya pernah diundang dalam sebuah pertemuan internasional dan menjadi pembicara tentang pluralisme. Hal ini dilatarbelakangi pandangan berbagai pihak di luar negeri yang menganggap Indonesia adalah contoh yang baik terhadap penerapan pluralisme dalam kehidupan bernegara.

“Tentu anggapan ini adalah kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Untuk itulah hal tersebut harus dijaga dan dipelihara sehingga tidak ada lagi kasus intoleransi yang terjadi dan saling benci antara satu dan lainnya,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini, Mahfud memaparkan sejumlah pemikiran tentang kehidupan bermasyarakat dan beragama dari berbagai tokoh dan penganut agama berbeda. Menurutnya, semua agama mengajarkan kebaikan bukan kebencian.

Sesuai fitrahnya, manusia diciptakan Tuhan dalam kondisi berbeda-beda, namun dalam perbedaan tersebut manusia dituntut berlomba dalam kebaikan.

Mahfud yakin, jika pemahaman yang benar dalam kehidupan bernegara mampu diterapkan masyarakat, tentu Indonesia akan bersatu dan hidup damai tanpa adanya gangguan maupun konflik akibat perbedaan terhadap sebuah pemahaman. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.