Mahasiswa Surabaya Buat Alat Pengeringan Krupuk, Siasati Cuaca Tidak Menentu

Petrus - 18 August 2017
Fandri Christanto menunjukkan sistem kerja alat pengering krupuk rancangannya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Akibat cuaca tidak menentu dan sesekali turun hujan di musim kemarau, mengakibatkan usaha pembuatan krupuk di Mojokerto terhambat. Hal ini karena proses pembuatan krupuk tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan akan panas matahari untuk mengeringkan bahan krupuk yang masih basah.

Situasi seperti ini yang menyebabkan Fandri Christanto, mahasiswa semester akhir Jurusan Teknik Elektro, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, merancang alat pengeringan krupuk bersama beberapa dosen pembimbingnya.

Alat pengering krupuk yang dirancangnya ini diyakini mampu mengeringkan bahan krupuk dengan cepat, tidak harus seharian penuh seperti saat dijemur dibawah sinar manahari. Selain itu, alat ini dirancang untuk mampu menampung produksi krupuk yang akan dikeringkan dalam jumlah banyak.

“Saya membuat alat ini, terinspirasi dari kedua orang tua saya yang kebetulan itu pelaku usaha di bidang UMKM, produksi krupuk. Nah saya melihat orang tua saya itu kalau musin hujan susah untuk mengeringkan krupuk, dan lagian kalau kita pakai energi konvensional, matahari, itu pasti akan membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang luas. Nah maka dari itu, saya dan beberapa dosen pendamping berinovasi untuk membuat alat pengering ini,” kata Fandri.

Fandri mengatakan, alat pengeringan krupuk buatannya mampu menggantikan peran panas matahari, yang seringkali terkendala masalah cuaca. Dengan ukuran 120 x 260 cm, serta tinggi sekitar 240 cm, alat ini mampu menampung sekitar 50-60 kilogram bahan krupuk basah, dan menghemat tepat dibanding dengan menjemur di bawah matahari.

“Pengeringan ini dilakukan menggunakan bahan bakar LPG untuk pemanasnya, sedangkan listrik digunakan untuk menyalakan sebuah blower dan sistem otomasinya saja. Listrik ini memakan daya sebesar 72 watt saja. Mengeringkan krupuk 50 kilogram dengan jangka waktu hanya 90 menit saja, sehingga cepat. Untuk LPG asumsi 3 kilogram, kita bisa pakai selama 3 kali pengeringan,” ujar Fandri.

Dosen pembimbing dari Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Andrew Joewono menjelaskan, pengeringan krupuk yang dirancangnya memakai metode pengeringan menggunakan angin panas. Dengan memutar angin panas ke dalam kotak lemari pengeringan, alat ini tidak membutuhkan banyak energi.

“Mesin ini ada tiga bagian, ada rak pengeringan, ada rak pengarahnya, ada blowing angin panasnya. Jadi metode yang kita pakai itu, metode pengeringan dengan angin panas, angin panasnya itu diputarkan kembali untuk dimasukkan kembali, sehingga tidak ada angin panas yang terbuang, itu yang menjadikan sistem ini menjadi lebih hemat,” terang Andrew.

Desain sederhana serta pengoperasian yang mudah, kata Andrew Joewono, menjadikan alat pengeringan cocok digunakan masyarakat pelaku usaha kecil.

“Memang mesin ini didesain untuk bisa membantu banyak UMKM, kelompok-kelompok mikro kecil, untuk usaha-usaha yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” lanjut Amdrew.

Selain digunakan untuk pengeringan bahan krupuk, alat pengering dapat pula dipakai untuk usaha masyarakat di bidang pembuatan ikan asin, hingga usaha cuci pakaian atau laundry.

“Karena media ini merupakan pengeringan dengan angin panas, berarti yang bisa dilakukan mulai dari penjemuran ikan asin,  kripik, krupuk, sampai kita pernah uji coba dengan model laundry. Jadi kalau misalnya kondisi matahari tidak bagus, setelah cuci masukkan sini, 15 sampai 20 menit kita dapat hasil yang kering,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.