Mahasiswa ITS Ciptakan Katalitik Konverter untuk Ubah Racun pada Polusi Udara

Petrus - 15 June 2018
Uji coba katalitik konverter di laboratorium ITS (foto : Humas ITS)

SR, Surabaya – Kota besar seperti Surabaya identik dengan kepadatan lalu lintas, serta polusi udara yang ditimbulkan oleh ribuan kendaraan yang melintas. Namun gas polutan dari knalpot kendaraan bermotor ini menjadi aman dan layak buang, melalui inovasi tiga orang mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Alvin Rahmad Widiyanto, Ulva Tri Ita Martia, dan Rahadian Abdul Rahman, ketiganya adalah mahasiswa yang menciptakan katalitik konverter, berupa reaktor atau tabung kecil yang berisikan lempengan kawat tembaga dan senyawa kimia padatan, katalis berupa Zeolit-NaY/MnO2.

Gas beracun dari polusi kendaraan bermotor merupakan gas pemicu utama terjadinya gangguan atau penyakit pernapasan, seperti karbonmonoksida, nitrogenoksida, dan hidrokarbon.

“Jika tidak ditangani lebih lanjut, maka keberadaan gas-gas tersebut akan semakin banyak di alam, karena aktivitas manusia yang tak luput dari kendaraan,” kata Alvin, selaku ketua tim.

Alvin mengatakan, adanya tembaga dan katalis berguna untuk mereduksi atau mengubah gas karbonmonoksida, nitrogenoksida, dan hidrokarbon, menjadi gas kabondioksida, nitrogen, uap air, dan ion sulfat. Keempat senyawa hasil konverter tersebut dinilai tim sangat aman dan bermanfaat bagi lingkungan.

“Gas karbondioksida sebagai bahan fotosintesis bagi tumbuhan, nitrogen untuk daya dukung kesuburan tanah, uap air dan ion sulfat sebagai produk yang aman bagi lingkungan,” terang Ulva, anggota tim.

Reaktor katalitik yang dipasang pada knalpot kendaraan, disusun sedemikian rupa sehingga model bodi knalpot tertap terlihat bagus. Hasil pengujian yang dilakukan menunjukkan efisiensi konverter yang sangat bagus, yaitu 92,18 persen.

“Artinya, sebanyak 92,18 persen kadar gas beracun, yang telah berhasil diubah atau direduksi menjadi gas tidak beracun,” imbuh Ulva.

Kelebihan katalitik konverter ini kata Ulva, mampu digunakan dalam satu tahun dengan masa satu kali penggantian bahan. Bahan katalis yang digunakan juga berharga ekonomis, dan mudah didapatkan di pasar bahan kimia pada umumnya.

Inovasi ini nantinya akan ditunjukkan sebagai bentuk karya penelitian, pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-31, Agustus mendatang.

“Kami sangat bangga ketika kami berhasil menjadi perwakilan ITS, serta mendapatkan medali emas kelak,” harap Rahadian, anggota tim lainnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.