Lintas Agama Jombang Rayakan Imlek Bersama Sinta Nuriyah Wahid

Petrus - 6 February 2017
Perayaan Imlek di Jombang bersama Sinta Nuriyah Wahid (foto : Istimewa)

SR, Jombang – Puluhan orang dari berbagai agama dan etnis di Jombang merayakan Imlek 2568, bersama mantan Ibu Negara Sinta Nuriyah Wahid, Minggu (5/2/2017). Perayaan Imlek digelar secara sederhana di rumah istri alm. Gus Dur di kawasan Jalan Juanda, Jombang.

Acara imlekan kali ini terasa spesial karena dihadiri tidak hanya oleh kalangan Tionghoa, namun juga etnis lain dari berbagai latarbelakang agama.

“Kami ingin publik mengetahui pentingnya menjaga keragaman yang ada. Karena bagaimanapun, sejarah peradaban Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kontribusi etnis Tionghoa,” ujar Aan Anshori, penggagas acara yang juga aktivis Jaringan GUSDURian.

Sesepuh Tionghoa di Jombang, Willy Sugianto dalam sambutannya mengingatkan kembali peran Gus Dur, karena mencabut regulasi yang mendiskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia.

“Pada era Presiden Abdurrahman Wahid berbagai regulasi diskriminatif dicabut, belenggunya dibuka. Tionghoa berhutang banyak pada Gus Dur,” kata Willy.

Imlek tahun ini, juga dilaksanakan dalam suasana Indonesia yang penuh dengan intrik politik, yang berpotensi memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Situasi ini diamini Sinta Nuriyah Wahid, yang menurutnya warisan pluralisme Gus Dur memdapat tantangan luar biasa.

“Kepentingan politik saat ini begitu menonjolkan kebencian, jauh dari cita-cita luhur pendiri bangsa,” kata Sinta Nuriyah.

Sinta juga mengingatkan agar setiap orang bisa menahan emosi dan tidak mudah terprovokasi, menanggapi situasi bangsa yang dipengaruhi konfrontatif politik di Jakarta. Setiap perbedaan perlu dihormati dan jangan sampai membuat bangsa ini semakin terpecah belah.

“Jangan sampai kita bersikap frontal. Harus tabayyun dulu,” ujar Sinta, yang menyampaikan pesan almarhum Gus Dur saat sebelum meninggal.

Sementara itu, rohaniwati Katoli di Jombang, Suster Margaretha mengatakan, besarnya jasa Gus Dur bagi kehidupan demokrasi di Indonesia tidak dapat dilupakan begitu saja. Terlebih oleh kelompok yang selama orde baru hingga awal reformasi tertimdas dan terdiskriminasi haknya sebagai sesama warga negara Indonesia.

“Saya punya banyak teman dengan pengalaman buruk selama Orde Baru, maupun Peristiwa 65, semoga hal itu tidak terjadi lagi di masa sekarang,” kata Suster Margaretha.

Acara perayaan Imlek di awali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dialog kebangsaan, dan diakhiri dengan doa bersama dari 6 agama. Lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Padamu Negeri dinyanyikan bersama-sama sebagai lagu penutup.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.