Limbah Beracun Industri Penyepuhan Mampu Diolah Menjadi Buangan Ramah Lingkungan oleh Mahasiswa ITS

Petrus - 25 June 2018
Rahadian Abdul Rachman sedang melakukan uji coba di laboratorium (foto : Humas ITS)

SR, Surabaya – Industri penyepuhan atau electroplating sering kali menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Hal ini karean limbah tersebut mengandung logam berat seperti Kromium 6.

Menyikapi kondisi pencemaran seperti itu, 3 mahasiswa dari Departemen Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yaitu Wulan Aulia, Rahadian Abdul Rachman dan Ulva Tri Ita Martia, mampu mengubah logam Kromium 6 menjadi logam yang lebih ramah lingkungan.

Wulan Aulia selaku ketua tim mengatakan, penggunaan logam kromium saat ini banyak digunakan dalam industri electroplating, untuk menghindari terjadinya korosi. Banyaknya penggunaan logam kromium ini dapat berdampak buruk bila limbahnya tidak diolah dengan baik.

“Dampaknya seperti menyebabkan mutagen pada manusia serta proses pertumbuhan tanaman di sekitar pembuangan limbah akan terhambat,” ujar Wulan.

Wulan menambahkan, agar limbah dari logam kromium 6 tidak lagi berbahaya, timnya berhasil mereduksinya menjadi logam kromium 3 dengan sistem Microbial Full Cell (MFC).

“Prinsip kerjanya yaitu logam kromium direduksi terlebih dahulu, kemudian dilakukan absorbsi,” lanjutnya.

Pereduksian menjadi logam kromium 3 dinilai memiliki toksisitas yang lebih rendah, bila dibandingkan kromium 6. Sedangkan untuk ukurannya sendiri, kromium 3 memiliki ukuran molekul yang lebih kecil.

“Ukuran molekul yang kecil ini akan membantu pada proses penyerapan, saat limbah kromium 6 tidak dapat tereduksi,” kata Wulan.

Wulan bersama tim menggunakan material adsorbsi Zeolit Y, untuk menyerap limbah dari logam kromium 6 yang tak tereduksi.

“Permukaan sisi aktif dari Zeolit Y yang luas akan meningkatkan kinerja dari penyerapan limbah logam kromium 6,” imbuhnya.

Mekanismenya dimulai dari menambahkan sumber bakteri Saccharomyces cerevisiae pada kutub anoda sistem reaktor. Kemudian, elektron yang dihasilkan akan bergerak menuju kutub katoda.

“Pada kutub katoda ini, limbah kromium 6 yang terkumpul akan diserap oleh Zeolit Y,” lanjutnya.

Dalam prosesnya, variasi waktu penyerapan dilakukan setiap selang 15 menit hingga dua jam. Di setiap menitnya, dilakukan pengukuran kadar logam kromium yang telah terserap oleh Zeolit Y. Menurut Wulan, penelitiannya ini tidak hanya diperuntukkan logam kromium, tapi juga untuk logam lain yang tingkat pencemarannya tinggi.

“Reduksi juga bisa dilakukan untuk logam yang memiliki toksisitas tinggi, seperti timbal (Pb) dan merkuri (Hg),” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.