Limbah Ampas Kopi Mampu Kurangi Pencemaran Logam Berat Pada Air

Petrus - 25 February 2017
Pengujian arang aktif ampas kopi pada air sumur yang tercemar logam berat (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Kopi merupakan salah satu jenis minuman yang banyak digemari masyarakat, karena kandungan kafein di dalamnya yangdiyakini berkhasiat mencegah kantuk. Minum kopi pada jaman sekarang banyak dilakukan di kedai-kedai kopi sederhana, maupun kedai kopi modern yang ada di pusat-pusat perbelanjaan.

Namun siapa sangka kopi tidak hanya dapat diminum air racikannya, karena ampas bekas minuman kopi ternyata juga memiliki nilai guna yang cukup tinggi bagi lingkungan.

Melalui tangan 5 mahasiswa Universitas Jember, limbah ampas kopi yang biasanya hanya dibuang begitu saja, ternyata dapat dipakai sebagai bahan penyerap racun pencemar logam cadmium (Cd) yang sering ditemukan dalam air.

Penelitian yang dilakukan oleh Puput Baryatik, Uswatun Asihta, Wita Nurcahyaningsih, Azzumrotul Baroroh, dan Herdian Riskianto, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat minat Kesehatan Lingkungan Universitas Jember (FKM UNEJ), mampu memanfaatkan limbah ampas kopi untuk mengurangi pencemaran air yang biasanya berasal dari aktivitas industri maupun tempat pembuangan akhir sampah (TPA) yang tidak sanitair.

“Berangkat dari keresahan mahasiswa akan tingginya bahan pencemar yang berbahaya, khususnya kadar cadmium (Cd) pada air yang dikonsumsi, maka kami mencoba memanfaatkan limbah ampas kopi,” papar Anita Dewi Moelyaningrum SKM., M.Kes, selaku dosen pembimbing.

Persoalan limbah selalu menjadi masalah yang sulit ditangani, terutama pada lingkungan yang menjadi tempat hidup banyak orang. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang masih rendah menjadikan masyarakat mudah membuang limbah, tanpa memperhatikan dampak bagi daya dukung lingkungan. Logam cadmium (Cd) adalah bahan beracun bagi semua organisme yang berada di lingkungan, karena dapat meracuni secara akut maupun kronis.

“Bila kandungan logam cadmium terakumulasi dalam tubuh, maka akan sangat berbahaya karena dapat merusak ginjal, liver, sistem syaraf bahkan cacat janin,” ujar Anita Dewi.

Penelitian para mahasiswa ini dilakukan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Pakusari yang terletak di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, dengan mengambil sample pada air tanah dan air sumur milik warga yang tinggal di sekitar TPA Pakusari.

TPA Pakusari, Jember memiliki luas 6,8 hektar dan beroperasi mulai tahun 1992. Sistem pengelolaan sampah di TPA Pakusari dilakukan secara controlled landfill yang dapat berpotensi mencemari air tanah, karena sampah yang ditimbun akan membusuk bersama dengan air hujan yang akan menghasilkan air lindi.

“Selama ini pengolahan limbah logam seperti cadmium masih sangat mahal, sehingga diperlukan langkah alternatif untuk mengatasi pencemaran logam cadmium di lingkungan termasuk di dalam air,” kata Puput Baryatik, salah satu mahasiswa yang melakukan penelitian.

Kandungan logam berat seringkali ditemukan pada air lindi atau cairan hasil timbunan sampah. Logam berat yang sering ditemukan antara lain timbal (Pb), cadmium (Cd), tembaga (Cu) dan besi (Fe). Sampah yang menghasilkan limbah kadmium (Cd) biasanya terdiri dari limbah bateray, peralatan elektronik, keramik, tekstil, dan plastik. Cadmium merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena beresiko tinggi terhadap pembuluh darah manusia, yang bila dalam jangka waktu panjang dapat terakumulasi pada organ hati dan ginjal.

“Gangguan pada kardiovaskular dan hipertensi menjadi salah satu dampak keracunan Cd kronis pada manusia,” imbuh Puput.

Hasil riset dengan judul Pemanfaatan Arang Aktif Ampas Kopi sebagai Adsorben Cadmium (Cd) Dalam Air Tanah, menjadi bukti bahwa ampas kopi dapat mengikat cemaran logam cadmium di dalam air.

Kualitas air sumur di sekitar TPA Pakusari, berdasarkan konsentrasi Cd memiliki nilai yang lebih besar dari baku mutu air bersih yang telah ditetapkan pemerintah melalui Permenkes RI nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air yaitu sebesar 0,12 ppm (> BML 0,05 ppm).

“Air sumur di sekitar TPA Pakusari merupakan sumber air utama bagi penduduk, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti minum, memasak, mandi dan sebagainya,” ujar Puput.

Penelitian yang telah ada sebelumnya, menyebutkan penggunaan arang aktif dari ampas kopi sebagai adsorben, mampu mengadsorpsi ion besi pada air minum sampai dengan 99,34 persen, dan mampu mengadsorpsi logam merkuri sampai 99 persen.

“Kami mencoba mengurangi kadar kadmium dalam air sumur di sekitar TPA Pakusari, dengan menggunakan arang aktif dari ampas kopi,” tandas Uswatun Asihta, mahasiswa yang lain.

Bahan-bahan yang digunakan sebagai arang aktif adalah bubuk kopi jenis robusta, air sumur di sekitar TPA Pakusari yang mengandung Cd, aquades, KI, HCl 0,1 M, larutan iod 0,1 N, natrium thiosulfat 0,1 N, dan indikator amilum 1%.

Bubuk kopi yang telah disiapkan diseduh dengan air panas selama 10 menit dan disaring. Selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 105 derajat celcius selama 5 jam, dan dikarbonisasi pada suhu 450 derajat celcius selama 45 menit. Ampas kopi diayak dengan ukuran 100 mesh. Selanjutnya arang ampas kopi sebanyak 300 gram direndam dalam larutan pengaktif HCl 0,1 M sebanyak 500 ml selama 48 jam, dan disaring menggunakan corong Buchner, kemudian dicuci dengan aquades sampai netral.

Ampas kopi yang sudah diaktivasi dibungkus dengan alumunium foil, kemudian dioven untuk mengurangi kandungan airnya terlebih dahulu pada suhu 100 derjat celcius selama 4 jam. Langkah selanjutnya arang aktif ampas kopi dibiarkan dingin dan disimpan dalam desikator. Pada penelitian ini, bentuk arang aktif ampas kopi yang digunakan sebagai adsorben adalah dalam bentuk serbuk dengan ukuran 100 mesh, untuk mempercepat reaksi.

“Hasilnya terjadi penurunan kadar Cd pada air tanah setelah menambahkan arang aktif dari limbah ampas kopi,” kata Puput.

Pemanfaatan ampas kopi ini diharapkan dapat diketahui oleh masyarakat, khususnya yang tinggal di lingkungan dengan air yang kurang bersih dan sehat. Dengan mengetahui bahaya cadmium dalam air terhadap kesehatan, masyarakat dapat lebih peduli terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

“Pengaplikasian arang aktif ampas kopi juga dapat digunakan oleh masyarakat maupun pabrik yang menghasilkan Cd seperti pabrik baterai, plastik, peralatan elektronik, tekstil dan keramik. Jadi, limbah ampas kopi lebih bernilai ekonomi, lingkungan menjadi sehat,” pungkas Anita.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.