KPI : Golput Merugikan Keterwakilan Perempuan di Legislatif

Yovie Wicaksono - 15 April 2019
Media Briefing yang digelar oleh Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jawa Timur, di Surabaya, Rabu (10/4/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jawa Timur menolak golput atau tidak memilih pada Pemilu 2019 yang akan digelar pada 17 April 2019 mendatang, karena akan merugikan keterwakilan perempuan di legislatif.

“KPI menolak golput pada Pemilu 2019, karena golput menjadi bagian yang menegasikan upaya pendidikan politik bagi perempuan yang telah dilakukan oleh KPI dan gerakan perempuan,” ujar Ketua KPI Jawa Timur, Wiwiek Afifah kepada Super Radio, Senin (15/4/2019).

Wiwiek mengatakan, perempuan berpolitik seharusnya tidak lagi hanya sebagai pemanis, bunga, atau sekedar memenuhi persyaratan administrasi partai politik agar lolos, namun karena memang seharusnya perempuan ada disana untuk mewakili suara perempuan.

“Kuota 30 persen untuk perempuan berpolitik itu harusnya tidak lagi hanya sebagai pemanis atau apapun, tapi memang mereka disana untuk mewakili suara para perempuan, terlebih politik adalah hal yang sangat dekat dengan perempuan, tidak hanya sekedar pengambilan keputusan, tapi dalam kehidupannya sehari-hari,” tambahnya.

KPI juga menyerukan perempuan pilih perempuan, terlebih KPI mengambil sikap Politik of Present atau Politik Kehadiran, dimana perempuan yang secara langsung akan mewakili perempuan.

“KPI mengambil sikap Politik of Present bukan Politik of Idea, bukan menitip kepada bapak-bapak, tapi kami ingin ada perempuan yang secara langsung mewakili perempuan, karena merekalah yang merasakan bagaimana hamil, melahirkan, dan bagaimana perjuangan perempuan. Jadi perempuan mari pilih perempuan,” ujarnya.

Sejauh ini, KPI telah berupaya untuk mendorong keterwakilan perempuan dengan melakukan penguatan terhadap anggota KPI melalui pendidikan kader dasar, menengah, dan pendidikan yang bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi.

“Harapannya adalah kita bisa mendidik kader-kader sendiri agar mereka mau terjun kedunia politik, agar mau nyaleg, yang kemudian kami melakukan pelatihan kepada caleg-caleg perempuan dari berbagai partai politik dengan jejaring organisasi masa perempuan atau LSM membekali mereka tentang cara berkampanye, memahami UU Pemilu, dan bagaimana membawa isu perempuan,” ujar Wiwiek.

“Untuk jumlah anggota KPI di Jawa Timur yang nyaleg sampai saat ini yang tercatat ada sekitar 21 orang,” tambahnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.