KPI dan KPU Jatim Bahas Keterwakilan Perempuan di Pemilu 2019

Yovie Wicaksono - 14 March 2019
KPI dan KPU Jatim Bahas Keterwakilan Perempuan di Pemilu 2019, Surabaya, Rabu (13/3/2019). Foto : (KPI Jatim)

SR, Surabaya – Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jawa Timur melakukan audiensi bersama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) membahas peningkatan keterwakilan perempuan dan anti golongan putih (golput) pada Pemilu 2019 untuk perubahan nasib perempuan yang lebih baik, di Surabaya, Rabu (13/3/2019).

“KPI Jatim telah melakukan pendidikan politik dan demokrasi bagi kader dan anggotanya sejak 1999 untuk meningkatkan kualitas Demokrasi di Indonesia, dan memiliki tanggung jawab mengawal pemilu 2019 sebagai salah satu sarana demokrasi, untuk menentukan kepemimpinan pemerintahan dan masa depan Indonesia untuk lima tahun mendatang. Semestinya, pemilu menjadi ruang untuk meningkatkan partisipasi dan keterwakilan perempuan, bukan justru meninggalkannya,” ujar Ketua KPI Jawa Timur, Wiwik Afifah, kepada Super Radio, Rabu (13/3/2019).

Wiwik menambahkan, peningkatan keterwakilan politik perempuan dapat dicapai jika pemilih memberikan suaranya untuk perempuan secara kritis. Perempuan merupakan pemilih potensial karena berjumlah lebih dari 50 persen dalam Data Pemilih Tetap (DPT).

“Namun suara perempuan rentan menjadi target kecurangan, antara lain mendapatkan intimidasi jika tidak memilih calon tertentu, menjadi korban politik uang, maupun diminta memilih di beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS),” tambah Wiwik.

KPI Jatim mendorong KPU Provinsi Jatim agar terus menguatkan partai pollitik guna melakukan kampanye anti golput dan pendidikana politik bagi pemilih, serta melakukan kampanye dengan tidak mengandung unsur SARA, adu domba dan diskriminasi.

KPI Jatim juga mengharapkan KPU Provinsi Jatim agar terus melakukan pendidikan demokrasi dan pendidikan pemilih pada kelompok perempuan dan kelompok marjinal sebagai bentuk afirmasi dalam menekan angka golput dan mendorong keterwakilan perempuan.

“KPI Jatim percaya, bahwa kesetaraan gender dapat dicapai dengan peningkatan keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan. Oleh karenanya, dalam menyongsong Pemilu Serentak, perempuan perlu memastikan peran serta aktifnya, dan menolak menjadi golput. Golput bukanlah pilihan untuk menaikan keterwakilan perempuan di parlemen. Keterwakilan perempuan mampu meningkat perbaikan hidup perempuan Indonesia,” tandas Wiwik. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.