KPAI Terjun ke Jawa Timur, Gubernur Minta Semua Pihak Bantu Rehabilitasi Anak yang Menjadi Korban Terorisme

Petrus - 18 May 2018
Gubernur Jawa Timur Soekarwo menerima Ketua KPAI Susanto, di Kantor Gubernur (foto : HUmas Pemprov Jawa Timur)

SR, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyatakan keprihatinannya, atas kasus terorisme yang melibatkan anak dengan melakukan aksi bom bunuh diri. Soekarwo menegaskan perlu adanya upaya pencegahan yang dilakukan semua pihak, agar peristiwa serupa tidak terjadi kepada anak yang lain.

“Salah satunya melalui kerjasama dan pelibatan KPAI dalam program-program pemerintah provinsi. Ini karena KPAI telah berpengalaman  dalam menyelesaikan permasalahan anak-anak,” kata Soekarwo, usai menerima Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto, di Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya.

Pelibatan KPAI akan dijalankan untuk mencegah radikalisme pada anak, bersama Dinas Sosial serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependukan Provinsi Jawa Timur. Tidak hanya KPAI, Pemprov Jawa Timur juga akan menggandeng pihak laih untuk mencegah bahaya radikalisme dan terorisme.

“Minimal sharing informasi antara KPAI dengan Pemprov Jawa Timur. Kami juga akan ajak para Rektor, pimpinan BEM se-Jawa Timur, untuk terlibat pula,” uajr Soekarwo.

Soekarwo mengatakan, terkait peristiwa teror bom, Soekarwo memastikan bahwa semua anak yang menjadi korban dan yang dikorbankan dalam tindak pidana terorisme, telah didampingi para psikolog pada beberapa hari terakhir.

Sementara itu, Ketua KPAI Susanto mengatakan, KPAI ke Jawa Timur untuk memberikan perhatian secara khusus kepada para anak yang terkait terorisme, baik dugaan keterlibatan maupun sebagai korban. Meskipun posisinya sebagai pelaku, tetapi perspektifnya tetap sebagai korban yang dikorbankan orang tuanya.

Mandat UU Perlindungan Anak menyebutkan, bahwa KPAI harus melakukan proses pengawasan dan memastikan adanya perlindungan kepada anak. Menurutnya, kebutuhan rehabilitasi terhadap anak terduga pelaku dan korban harus sekomprehensif mungkin, baik rehabilitasi terhadap medis, psikis, sosial, hingga sentuhan keagamaannya.

KPAI juga akan mengumpulkan anak-anak dan keluarga, untuk bersama-sama mencegah radikalisme. Salah satunya dengan memberikan literasi media sosial pada anak dan keluarga, mengingat media sosial memiliki informasi yang tak terbendung.

“Semoga anak-anak beserta keluarga bisa mempunyai daya tangkal sekaligus proteksi terhadap radikalisasi,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.