Korban Bom Bali: Tuhan Saja Mau Memberi Maaf

Yovie Wicaksono - 28 February 2018
Menko Polhukam Wiranto bersama Kepala BNPT dan Ketua Panja RUU Terorisme berfoto bersama korban dan mantan terpidana terorisme di Jakarta (foto : Superradio/Nina Suartika)

SR, Jakarta – Korban Bom Bali I, Chusnul Hotimah, memberikan maaf kepada para pelaku bom tersebut. Ia mengaku hanya fokus untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, agar dirinya bisa pulih seperti sedia kala.

“Tuhan saja mau memberi maaf, kenapa masa manusia tidak? Saya hanya minta tanggungan kesehatan tanpa ada batasan. Saya mohon kepada Kemenkes ada semacam kartu atau asuransi bagi para korban dan keluarga korban terorisme,” ujar Chusnul, dalam acara silaturahmi kebangsaan antara mantan narapidana teroris dengan para penyintas teroris di Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Ia mengatakan, sebagai korban dirinya kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan. Kartu Indonesia Sehat (KIS) miliknya, yang merupakan program dari pemerintahan Joko Widodo pun selalu ditolak rumah sakit, dengan alasan pengobatannya tidak dicover.

“Kartu KIS ini tidak pernah saya pergunakan. Padahal saya ini korban cacat seumur hidup dan perlu pengobatan seumur hidup,” kata Chusnul.

Di tempat yang sama, mantan narapidana terorisme, Fauzi juga mengeluhkan persepsi masyarakat terhadap keluarganya. Ia pun mengkhawatirkan nasib anak-anaknya karena pandangan buruk dari lingkungan.

“Bagaimana nasib putra putri kami? Pandangan orang negatif terhadap keluarga kami. Kami berharap adanya bantuan dari Pak Menteri,” kata Fauzi.

Sementara itu, Menko Polhukam Wiranto mengapresiasi adanya pertemuan antara mantan narapidana teroris dengan korban teroris ini. Ia berjanji akan mengunci setiap komitmen dan harapan yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut.

“Saya menguncai agar semua komitmen dari hasil pembicaraan tadi, semua janji-janji, semua harapan itu dikunci agar semuanya bisa terwujud,” kata Wiranto.

Silaturahmi ini menghadirkan 124 mantan narapidana terorisme dan 51 korban terorisme. Acara ini digelar sebagai upaya untuk menghilangkan trauma pascateror. Karena tidak semua penyintas dapat menghilangkan trauma akibat teror.

“Tidak semua korban hilang traumanya. Hari ini kami menggelar silaturahmi antara penyintas yang sudah bisa membuka diri,” kata Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Alius.

Ia berharap, acara ini bisa menjadi pelopor perdamaian di masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia.

“Ini untuk menunjukkan bahwa Indonesia itu damai, memiliki toleransi dan empati dari semua pihak,” tandas Suhardi.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.