Konsep Keluarga Utuh Cegah Terjadinya Kekerasan Seksual

Yovie Wicaksono - 2 March 2019
Ilustrasi

SR, Surabaya – Ketua Yayasan Embun Surabaya (YES) Joris Latto menilai konsep keluarga yang utuh menjadi salah satu  dasar penting dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual kepada anak maupun perempuan dalam keluarga.

“Konsep keluarga utuh adalah sistem satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, artinya  kalau salah satu peran dalam keluarga tidak berjalan maka akan terjadi masalah dalam keluarga, oleh karena itu saya pikir keluarga yang utuh adalah keluarga yang menjadikan anggota keluarganya bagian dari sebuah kehidupannya, bahwa keluarga itu ibu, bapak, anak, bisa berbagi cerita,” ujar Joris kepada Super Radio, Sabtu (2/3/2019).

Joris mengatakan, konsep keluarga yang utuh, tidak bisa setengah-setengah, tapi  masuk pada substansi keluarga itu sendiri, bagaimana orang tua menyiapkan anaknya untuk bertanggung jawab terhadap tubuhnya, lingkungan keluarga dan juga terhadap masyarakat.

Persoalan terbesar keluarga masa kini adalah kemajuan teknologi  yang membuat keluarga tidak semuanya utuh. Kedekatan antar anggota keluarga mulai terkikis dan tergantikan dengan gadget.

“Jaman sekarang harus ada kekuatan untuk melawan gadget, karena ketika anak lebih dekat dengan gadget maka pola pikir anak itu akan dipengaruhi. Yang perlu adalah bagaimana membangun kearifan lokal, nila-nilai yang pernah ada di sekitar kita,” ujar Joris.

Selain mengikis kedekatan antar anggota keluarga, gadget juga dapat menjadi sumber informasi untuk anak yang tidak semuanya bermuatan positif, seperti informasi yang berisikan konten seksual, dimana anak belum dibekali pendidikan seks terlebih dahulu dalam keluarga.

“Pendidikan seks itu penting untuk anak, bukan berarti seks bagaimana proses terjadinya manusia, tetapi mengenai nilai bagaimana dia melindungi tubuhnya, dia tau bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh misalnya, tau kalau dia upload foto itu tidak mengeksploitasi tubuhnya. Ini perlu sekali namun kadang orang tua tidak peduli,” ujar Joris.

Joris menambahkan, kesalahan terbesar adalah ketika menganggap seks itu milik orang dewasa semata. “Oleh karena itu sejak dini anak kita harus diajarkan mengenai pendidikan seks, seks dalam arti yang tidak fulgar, tetapi agar anak itu faham mengenai hak atas tubuhnya, dampak dari seks, seperti kehamilan yang tidak diingingkan, penyakit kelamin, HIV/AIDS, atau stigma yang ditimbulkan,” katanya.

Pendidikan-pendidikan yang berkaitan dengan hak anak juga perlu diketahui oleh masyarakat, agar anak mendapatkan haknya.

“Kadang kita ini lupa kalau anak itu punya hak untuk mendapatkan kasih sayang, hak untuk bermain, pendidikan, kesehatan, ini adalah hak mereka. Saat kita tidak memenuhi hak ini maka kita sudah menelantarkan mereka,” tegas Joris.

Ditambahkan, memanfaatkan waktu bersama dengan anggota keluarga adalah hal yang penting, terlebih komitmen bersama dalam keluarga.

“Jika kita bertemu anak atau keluarga kita, maka gunakan waktu itu semaksimal mungkin, lalu harus ada komitmen, sehingga anak yang lahir tidak sia-sia artinya ketika kita berumah tangga kita harus memiliki komitmen bagaimana dengan persoalan anak kita nanti, tidak saat anak sudah lahir baru saling lempar, tapi didepan kita sudah ada komitmen bahwa ketika anak lahir kita harus bisa menjaga dan merawat mereka,” pungkas Joris. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.