Kisah Nasabah Pinjaman Online (3)

Yovie Wicaksono - 26 February 2019
Ilustrasi.

Gunakan Foto Anak untuk Mengancam

SR, Surabaya – Kisah penagihan nasabah layanan pinjaman online selalu ada cerita, terutama soal cara penagihan yang cenderung intimidatif. Misalnya saja seperti yang dialami Yuni (nama samaran) warga kota Surabaya.

Kepada Super Radio, perempuan ini menceritakan pengalamannya selama menjadi nasabah layanan pinjaman online. Yuni bersinggungan dengan layanan pinjaman online diawali pada Desember 2018, atau pada saat anak terkena demam berdarah, dan harus memberikan deposit pada rumah sakit untuk rawat inap.

“Waktu itu memang kebutuhan untuk anak saya yang opname di salah satu rumah sakit di Surabaya, yang harus menggunakan deposit Rp.2 Juta, dan saya waktu itu hanya ada Rp.1 Juta aja, lalu saya tergiur untuk pinjam online, yang sebelumnya saya dapat sms dari pihak aplikasi yang nagih teman saya,” ujar Yuni, Selasa (26/2/2019).

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Yuni akhirnya melakukan pinjaman sebesar Rp.1 Juta pada satu aplikasi pinjaman online yang berlisensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan batas waktu peminjaman 7 hari.

Namun dikarenakan bunga yang besar serta jangka waktu yang pendek, hari ke 6 sebelum jatuh tempo, Yuni terpaksa menggunakan satu aplikasi pinjaman online lagi untuk menutup hutang di aplikasi pertama (gali lubang tutup lubang), begitu seterusnya hingga Yuni menggunakan 25 aplikasi dengan total hutang kurang lebih Rp. 40 hingga 45 Juta.

Dari sinilah, Yuni mulai mendapatkan intimidasi dari salah satu aplikasi pinjaman online pada saat menagih hutangnya, bahkan sebelum jatuh tempo.

“Dari beberapa aplikasi yang saya punya, hanya satu yang memang kasar, jahat kata-katanya untuk pengancaman, baik deb collector laki atau perempuan, bahkan sampai video call sama saya juga,tapi tidak menunjukkan wajahnya,” ujar Yuni.

Dalam satu hari, Yuni mendapatkan 10-15 telepon, dan lebih dari 20 pesan singkat yang dikirimkan pihak pinjaman online untuk menagihnya.

“Satu hari bisa lebih dari 10 atau lima belas kali telepon, untuk WA itu bisa lebih dari 20, mulai dari jam setengah 9 pagi, dan nagihnya itu sebelum jatuh tempo, jatah 10 hari, tapi di angka 9 hari sudah nagih-nagih, sudah menunjukkan kekasaran itu, lalu pas jatuh tempo itu mengeluarkan kata-kata kasar dan pengancaman,” jelas Yuni.

Selain itu, pihak pinjaman online juga mengakses dan menyebarkan pesan singkat berisi penagihan kepada seluruh kontak Yuni.

“Kontak saya dibaca, kalau saya punya 100 kontak ya dia nyebar kata penagihan itu ke 100 kontak semuanya, gara-gara itu mulai  Januari sampai sekarang saya sudah lost contact dengan saudara saya, karena di sms itu mencantumkan kalau nomor tersebut (yang dihubungi) itu seakan sebagai penanggung utang saya,” tambah Yuni.

Hal yang membuat Yuni geram adalah pihak pinjaman online sampai menggunakan foto anaknya untuk mengancam dirinya, agar segera melunasi hutangnya. Akhirnya Yuni melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian dan OJK, namun hasilnya nihil.

“Saya sudah melaporkan pada pihak kepolisian, saya disarankan untuk mengganti semua nomor hp, email, dan media sosial saja, lalu melapor OJK Surabaya dan tidak ada hasilnya. OJK Surabaya meminta saya telepon langsung sama pihak OJK Pusat Jakarta, karena yang di Surabaya ini hanya mengurusi yang bermasalah seperti bank-bank di Surabaya, lalu saya melaporkan pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya,” ujar Yuni.

Beberapa waktu lalu Yuni mengaku dihubungi pihak LBH Surabaya untuk konfirmasi aplikasi apa saya yang pernah dipakainya, namun belum ada perkembangan lebih lanjut hingga kini.

Sebagai jalan keluar, Yuni meminjam kepada rekan terdekat untuk menutup hutangnya di pinjaman online, dan kini tersisa 15 aplikasi yang dimilikinya.

“Awalnya 25 aplikasi, akhirnya saya pinjam hutang-hutang di teman, di saudara itu akhirnya bisa menutupi 10 aplikasi, jadi ini tinggal 15 aplikasi,” ujar Yuni.

Selain cara penagihan yang intimidatif, Yuni juga merasa telah dibohongi oleh pihak pinjaman online.

“Saya juga merasa tertipu dari pinjaman online, karena untuk penerimaan berapa-berapanya itu tidak disebutkan dari awal di aplikasi tersebut,” tambahnya.

Yuni berpesan kepada masyarakat yang ingin melakukan pinjaman online agar mengurungkan niatnya, sebelum terjebak dalam pinjaman online.

“Saya sarankan sih jangan sampai terperosok ya di pinjaman online ini, karena sebelum saya masuk di grub SKDA (grub yang menampung para korban pinjaman online) itu saya sudah merasa putus asa, dalam arti pikiran saya sudah yang tidak-tidak, yang pertama saya sudah ingin kabur dari rumah, ninggalin anak suami, keluarga, bahkan saya pernah ingin bunuh diri,” ujar Yuni dengan mata berkaca-kaca. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.