Kisah Nasabah Pinjaman Online (2)

Yovie Wicaksono - 22 February 2019
Ilustrasi. Foto : (Istimewa)

SMS Pinjaman Disebar ke Daftar Kontak

SR, Surabaya – Berawal dari teman yang memberitahukan adanya aplikasi pinjaman online (pinjol), Lina (nama samaran) asal Sidoarjo, langsung memasang aplikasi tersebut. Salah satu alasan memasang aplikasi pinjaman online karena tertarik dengan pinjaman tanpa persyaratan yang rumit dan tanpa jaminan.

“Dulu awalnya ada temen yang bilang kalau gampang pinjamannya, lalu saya coba pinjam Rp500 ribu, dan ternyata gampang banget di acc. Akhirnya saya ketagihan, hingga kemudian benar-benar butuh dan pinjam sebesar satu juta hingga dua juta per aplikasi,” ujar Lina kepada Super Radio, Jumat (22/2/2019).

Total, Lina memiliki 25 aplikasi pinjaman. Banyaknya aplikasi tersebut, karena ia harus gali lubang tutup lubang, akibat tingginya bunga pinjaman.

“Sebenarnya saya tidak ada niatan untuk tidak membayar, tapi karena bunga yang tinggi kita terjerumus dari yang awalnya satu atau dua aplikasi sampai 25 aplikasi, karena gali lubang tutup lubang untuk menutup semua itu,” terang Lina.

Lina mengaku kaget setelah dirinya terlambat membayar pinjaman, setelah 3 hari melewati batas waktu. Pihak pinjaman online, saat itu langsung mengirimkan pesan singkat kepada seluruh kontaknya.

“Telat satu hari saya tidak di confirm sama pihak aplikasinya, tau – tau telat tiga hari sms penagihan sudah tersebar di seluruh kontak saya. Isinya, bahwa saya mempunyai tunggakan di aplikasi ini, sebesar satu jutaan, yang dikirim ke kontak saya,” kata Lina sembari menahan emosi.

Pesan singkat itu dikirimkan pihak pinjaman online  seminggu dua kali dan selama kurang lebih satu bulan. Hal ini tidak bisa diterima oleh Lina, karena dianggap telah menyebarkan data pribadi.

“Yang paling tidak bisa saya terima adalah menyebarkan sms seperti itu ke seluruh kontak saya. Seharusnya tidak perlu sebar data, ini hutang piutang antara pihak aplikasi dan kami, tidak usah orang yang tidak bersangkutan itu dihubungi. Itu kan yang membuat mental kita yang di down kan,  saya sampai malu dengan pihak kantor, apalagi dengan teman-teman yang setiap hari ketemu dengan saya,” tegas Lina.

Hal itu, belum termasuk foto yang disebar di beberapa aplikasi tertentu oleh pihak pinjaman online.

“Kemarin itu mereka nagihnya pakai foto saya, saya nanya mengapa harus dengan foto saya, alasannya biar saya percaya kalau mereka bukan penipuan, nagih seperti itu apakah wajar? Bahkan dengan jumlah yang menurut saya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan yang Rp50 juta atau berapa pun itu, tidak seperti itu nagihnya,” ujar Lina.

Selama ini Lina berusaha untuk negosiasi kepada pihak pinjaman online agar dapat keringanan untuk membayar pinjaman pokoknya, namun hingga kini belum membuahkan hasil. Terlebih tidak adanya ruang komunikasi antara nasabah dengan penyedia pinjaman online.

“Selama ini saya berusaha nego, kalau bisa ya dibayar pokok, kalau gak mau ya gimana lagi, saya gak punya duit untuk nutupin bunganya yang setiap hari membengkak sampai ratusan ribu, ada yang Rp. 150 ribu per hari, ada yang Rp.50 ribu. Gak wajar banget gitu loh bunganya,” tambah Lina.

Hingga bulan Januari, Lina dapat menutup hutangnya di 10 aplikasi, dan kini tinggal 15 aplikasi. Lina mengaku saat ini tidak mampu lagi membayar utang di 15 aplikasi tersebut. Intimidasi yang didapatkan Lina, membuatnya melaporkan kasus ini kepada LBH Surabaya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.