Kisah Aktivis 98 Korban Penculikan (3)

Yovie Wicaksono - 18 March 2019
Oetomo Raharjo, ayah Petrus Bimo Anugrah yang merupakan satu dari 13 korban penghilangan orang secara paksa yang terjadi pada tahun 1998.

Tinggalkan Surabaya dan Tak Kembali

SR, Jakarta – Raut wajahnya memancarkan kesedihan saat Oetomo Raharjo menceritakan kisah anaknya, Petrus Bimo Anugrah. Namun, ia juga masih menyimpan banyak semangat untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan mengenai penghilangan paksa yang dialami oleh Petrus.

Petrus Bimo Anugrah adalah satu dari 13 korban penghilangan orang secara paksa yang terjadi pada tahun 1998. Hingga kini, ia pun tak pernah kembali bahkan tidak ada sedikit pun informasi mengenai keberadaannya.

“Sudah 21 tahun lamanya saya berjuang untuk mencari kebenaran dan keadilan mengenai keberadaan anak saya. Saya menjadi bersemangat karena didukung oleh orang-orang yang mendampingi saya selama ini yang tidak harus diminta tapi mereka banyak mendukung, termasuk media,” kata Oetomo Raharjo di Jakarta.

Ia menceritakan mengenai pertemuan terakhir dengan putranya tersebut. Saat itu, Bimo pamit meninggalkan kuliahnya di UNAIR dan ijin untuk pergi ke Jakarta. Sang ibu sebenarnya menahan Bimo agar tidak pergi, namun Oetomo justru merestuinya dengan memberikan dorongan moral kepada Bimo.

“Dia itu aktivis di SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi), underground nya PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang katanya setan gundul yang harus digebuk. Saya tahu persis itu. Tapi saya mendukung, kalau itu berbuat sesuatu untuk orang lain dan berbuat baik maka silahkan, bukan untuk dirinya sendiri,” kata Oetomo.

Ia mengatakan, setelah Bimo hilang sang istri mengeluh kepadanya mengapa ia tega merelakan Bimo sampai tidak ada seperti sekarang. Namun, ia merasa itu bukan merelakan tetapi menjerumuskan Bimo kearah yang tidak mereka inginkan. Tetapi ia hanya ingin memberikan doa dan semangat untuk apa yang Bimo lakukan.

Oetomo bercerita jika Bimo mulai peduli pada politik bangsa saat semester awal kuliah di Surabaya. Bimo mulai mengikuti teman-temannya yang melakukan aksi buruh, mendampingi tani yang tanahnya digusur. “Ia peduli kepada mereka yang kurang mapan,” katanya.

Akan tetapi, Bimo jarang bercerita kepadanya mengenai aksinya mendampingi tani buruh dan berurusan dengan aparat. Oetomo juga pernah mendengar  melalui temannya jika Bimo pernah ditangkap 3×20 hari di Polda Metro Jaya dan wajib lapor. Bimo ditangkap dan ditahan untuk 3 kasus yakni memiliki brosur Mega-Bintang, anggota PRD, dan menuntut Manifesto PRD.

“Bimo tidak memiliki senjata. Senjata darimana? Tapi senjata yang Bimo miliki yaitu pemikirannya, mengkritisi pemerintah. Saya ingat ia menuntut Manifesto PRD antara lain hapus dwi fungsi ABRI, pencabutan 5 UU Politik, referendum Timor-Timur, dan multi partai,” kata Oetomo.

Oetomo masih sangat mengingat mengenai perangai Bimo yang periang dan humoris. Dikatakan bahwa Bimo juga memiliki kegemaran menggambar kartun dan lukisan. “Dia adalah anak yang periang, humoris, dan senang membuat gambar kartun dan lukisan,” katanya.

Kini, Oetomo masih terus berjuang meskipun sendirian. Karena tahun lalu, sang istri Genenova Misiati meninggal dunia karena sakit.

“Saat ini saya memakai kaos Kalahkan Capres Pelanggar HAM, lain kata marilah kita memilih Capres yang bukan pelanggar HAM. Harapan saya pada pemerintah dalam pemilu yang akan datang, kami dari keluarga korban konsisten untuk mendukung Jokowi periode kedua. Tidak ada pertanyaan seandainya si A yang menang, tidak ada kata andai, pasti ini. Harapan kami kepada pemerintah Jokowi mudah-mudahan memberikan harapan kepada keluarga korban yang telah menunggu 21 tahun, kami tidak pernah berhenti dan ciut nyali dalam mencari kebenaran di negeri ini,” kata Oetomo. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.