Kisah Aktivis 98 Korban Penculikan (2)

Yovie Wicaksono - 16 March 2019
Ilustrasi

Pamit Bekerja, Ditemukan Tewas

SR, Jakarta – Air matanya tak sanggup dibendung ketika Budiarti, ibunda Leonardus Nugroho atau yang akrab disapa Gilang menceritakan kembali  peristiwa penculikan yang dialami putranya tersebut. Gilang merupakan satu dari 23 korban penculikan di tahun 1997-1998 yang ditemukan dalam keadaan meninggal.

Gilang hanyalah seorang pengamen. Namun, ia juga memiliki pemikiran yang kritis terhadap pemerintah, karena ia lebih banyak memiliki kawan dari kalangan mahasiswa. Ia pun sempat bergabung dalam salah satu gerakan mahasiswa bernama Dewan Rakyat dan Mahasiswa Surakarta (DMRS).

Budiarti masih ingat betul ketika anaknya pamit untuk bekerja selama dua hari di Magetan, Jawa Timur. Ia sendiri mengaku telah memiliki firasat buruk dan mencoba membujuk anak sulungnya tersebut agar tetap tinggal di rumah.

“Ibu jangan kayak gitu. Saya anak laki-laki, punya tanggung jawab ke adik-adik. Enggak pengin adik sengsara kayak aku. Insya Allah saya bisa meningkatkan taraf hidup keluarga,” kata Budiarti mengenang perkataan Gilang saat pamit.

Gilang juga berpesan kepada ibunya jika dalam dua hari dia tidak memberikan kabar, maka Budiarti bisa bertanya kepada teman dekat yang akan berkunjung ke rumah. Namun ketika dua hari Gilang tak memberi kabar dan Budiarti bertanya kepada teman yang dimaksud, justru sang teman bertanya balik mengenai keadaan Gilang.

“Loh mbak saya juga disuruh Gilang tanya ke mbak, dia cuma bilang ikut orang penting,” kata Budiarti.

Keesokan harinya, Budiarti meminta suaminya untuk melaporkan kehilangan anaknya tersebut. Tak lama berselang, berita mengenai kehilangan Gilang muncul di surat kabar. Kemudian, ada seorang pengacara bernama Wahyu Teo mendatangi rumahnya dan memberitahukan mengenai ciri-ciri jenazah yang ditemukan di Hutan Sarangan, Magetan, Jawa Timur. Ternyata ciri-cirinya mirip dengan Gilang.

Teo bersama bapak kandung Gilang kemudian memeriksa kebenaran informasi tersebut. Setelah menemui pihak kepolisian diyakini jika jenazah yang ditemukan itu merupakan anaknya, Gilang. “Bu betul anak kita sudah meninggal, ditemukan di sana (Hutan Sarangan), saya minta kepada pengacara untuk dapat dimakamkan di Jawa Tengah,” kata Budiarti.

Budiarti menceritakan bahwa jasad Gilang ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Dalam posisi terlentang dengan tangan ditali di bawah pohon. Kemudian, ada bekas sobekan di dada.

“Saya waktu begitu mendengar berita seperti itu saya shock, padahal Gilang itu hanya seorang pengamen, tapi dia tidak pernah berbuat kriminalitas atau tawuran tapi diperlakukan seperti ini,” kata Budiarti.

Sudah 21 tahun peristiwa itu terjadi, namun sampai hari ini ia bersama dengan keluarga korban lainnya masih tetap mencari keadilan dan kebenaran mengenai peristiwa penculikan tersebut. Ia pun berharap agar pemerintah bisa memberikan keadilan bagi putranya yang telah meninggal tersebut.

“Sampai sekarang sudah 21 tahun saya tidak tahu kejelasan pasti kesalahan apa yang anak saya lakukan dan keadilan pun belum jelas sampai saat ini. Saya berharap pemerintah bisa memberikan keadilan kepada kami dan saya berharap Pak Jokowi bisa kembali terpilih. Saya begitu sakit dan saya sangat berdoa jangan sampai Prabowo itu jadi pemimpin negara ini,” kata Budiarti. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.