Kisah Ahmed, Mahasiswa UNAIR dari Gaza

Yovie Wicaksono - 16 January 2017
Ahmed Muhammad Omar Al- Madani, Mahasiswa S3 Ilmu Sosial FISIP UNAIR. (Foto : Superradio/Humas UNAIR).

SR,Surabaya – “Hanya ada dua pilihan, aku tetap tinggal di Gaza dengan situasi yang seperti ini atau aku keluar dari Gaza dan membuat hidupku lebih baik”. Penggalan kata itulah yang diucapkan Ahmed Muhammad Omar Al- Madani saat menceritakan kisah perjuangan melewati konflik di negaranya, hingga ia berhasil melewati Rafah Borders untuk sampai di Indonesia.

Konflik Gaza bukan hal mudah bagi dirinya dan karena perjuangan serta doa di tengah suara meriam, ia akan mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu politik dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

Ahmed Muhammad Omar Al- Madani, terhitung sejak November 2013 menjadi mahasiswa S3 Ilmu Sosial FISIP UNAIR. Ia mendapatkan beasiswa unggulan dari Pemerintah Indonesia untuk berkuliah di UNAIR.

“Aku tidak pernah berpikir tentang beasiswa yang ada di Indonesia. Yang aku tahu beasiswa hanya di Turki, Jerman, dan Amerika. Kalaupun aku mencari di Asia, aku mencari di Malaysia atau China,” jelasnya.

Pria yang disapa Ahmed ini, memiliki latar belakang yang berbeda dengan mahasiswa lainnya, yakni dari negara yang tidak berhenti dari konflik. Ahmed tumbuh besar dengan suara bom dan peluru yang biasa “melintas” diatas rumahnya. Asap dan tangisan anak kecil sudah menjadi hal biasa yang ia hadapi sehari-hari.

Perubahan Hidup
Pertemua Ahmed dengan Hamidah di dunia maya merupakan awal perubahan hidupnya. Di tahun 2013, Hamidah menyarankannya untuk mengikuti beasiswa unggulan bagi mahasiswa asing yang diadakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia.

Ahmed kemudian mencoba mendaftarkan diri dan selang seminggu kemudian ia mendapat kabar kalau diterima di UNAIR.

Ahmed seharusnya tiba di Indonesia dan melangsungkan kegiatan perkuliahan pada September 2013. Namun, keadaan yang ada di negaranya membuatnya harus tertahan hingga November 2013. Untuk keluar dari Gaza, Ahmed harus melewati Rafah Border yang merupakan pembatas antara Gaza dan Mesir.

Rafah Border selalu tertutup dan hanya orang orang tertentu yang bisa mengaksesnya. Setiap hari Ahmed datang ke Rafah Border untuk melakukan negoisasi pada penjaga disana agar ia bisa keluar dan terbang ke Indonesia. Tepat November 2013, akhirnya Ahmed berhasil melewati Rafah Border dan terbang ke Indonesia.

Tahun ini adalah tahun terakhir Ahmed menjalani studi di UNAIR. Ia sangat senang bisa tinggal di Indonesia karena jauh dari cerminan Gaza yang setiap hari terdengar suara tembakan, rudal, maupun serangan udara, dan jiwa yang emosi.

“Disini orangnya ramah dan suka senyum, saya merasa senang, beda dengan disana (Gaza) jadi kalau kamu senyum pada orang yang tak dikenal, mereka bukan malah membalas dengan senyumanmu mereka malah memaki maki kamu dan bilang ngapain kamu senyum ke aku,” katanya sembari tersenyum.

Kelak jika kuliahnya berakhir, Ahmed mengatakan tak mungkin kembali ke Gaza, karena konflik yang tak kunjung reda. Ia lebih memilih untuk berkarir di Indonesia atau negara yang lain.

Ahmed memiliki cita-cita sebagai pengajar dan selama tinggal di Surabaya, ia sering mengajar Bahasa Inggris di beberapa tempat.

“Jika ada kesempatan, saya ingin sekali mengajar di UNAIR untuk mahasiswa ilmu politik S-1 semester awal. Saya juga ingin berbagi dengan mereka ilmu politik yang sudah saya pelajari. Saya juga ingin mengajar mereka menggunakan Bahasa Inggris,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.